Baca Juga: Dedi Mulyadi, Melawan Mitos Tentang Sunda
Rumahnya terbuka, kampungnya tertata, sawahnya dirawat, airnya dijaga, budayanya dihidupkan, dan warganya ikut bergerak. Itu sebabnya daya tariknya bukan semata fisik, tetapi juga simbolik.
Bahkan, sejak sebelum menjabat gubernur, KDM sudah menyebut Lembur Pakuan sebagai laboratorium pertanian organik dan lingkungan yang terintegrasi.
Dan, dalam perkembangan berikutnya, kawasan itu juga disebut sebagai ruang inovasi pertanian-perikanan berbasis lingkungan.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apa sebenarnya yang dirindukan ketika mereka berbondong-bondong ke Lembur Pakuan?
Baca Juga: Bencana Longsor Bandung Barat : Dedi Mulyadi Kritik Alih Fungsi Kawasan Pegunungan
Pertama, ada kerinduan kepada sosok pemimpin yang membumi.
Di tengah zaman ketika banyak pejabat terasa jauh, terlalu formal, terlalu protokoler, dan terlalu administratif, publik tampaknya merespons figur yang terlihat hadir dalam bahasa keseharian rakyat.
Kedua, ada kerinduan kepada keindahan yang sederhana.
Lembur Pakuan bukan magnet karena gedung mewah atau arsitektur glamor. Justru daya tariknya lahir dari sawah, jalan kampung, saluran air, lanskap desa, dan kesan tertib yang alami.
Dalam psikologi sosial modern, ini penting. Masyarakat kota dan kelas pekerja hari ini mengalami kelelahan visual, kelelahan sosial, dan kelelahan emosional.
Dengan begitu, ketika mereka menemukan ruang yang hijau, rapi, organik, dan terasa “manusiawi”, mereka datang bukan hanya sebagai wisatawan, tetapi sebagai orang yang sedang memulihkan diri.
Ketiga, ada kerinduan kepada kejayaan masa lalu yang dibayangkan hidup kembali.
Nama Lembur Pakuan sendiri membawa resonansi sejarah dan kebudayaan Sunda. Ia mengandung gema tentang tatanan hidup lama yang tidak sepenuhnya hilang. Ia adalah kampung yang bukan sekadar lokasi tinggal, tetapi ruang peradaban.
Mereka di sana seperti sedang mencari pengalaman simbolik, bahwa tradisi tidak harus kalah oleh modernitas.