WartaPesona.com - Tak ada kekuasaan yang terbebas dari kejatuhan. Apalagi, jika kekuasaan itu dijalankan dengan lalim, zalim dan sombong.
Pilihannya tergantung kepada pemegang kekuasaan; apakah mau jatuh dengan husnul khotimah alias happy ending (berakhir baik), atau sebaliknya jatuh dengan suul khotimah (berakhir buruk).
Yang pasti, fakta sejarah membuktikan, banyak pemimpin tumbang bukan semata-mata karena lawannya terlalu kuat, melainkan karena dirinya terlalu mabuk kuasa.
Baca Juga: Hari Kebangkitan Nasional Ditandai Dengan Tentara Menjadi Petani
Ia gagal membedakan antara amanah dan ambisi, antara kritik dan makar, antara jabatan dan pemujaan diri dan antara misi suci dan ego diri.
Oleh karena itu, kejatuhan pemimpin sebenarnya bukan sekadar kecelakaan politik. Ia juga bukan hanya hasil dari manuver lawan. Lebih dari itu, kejatuhan sering merupakan akumulasi dari kerusakan yang ia ciptakan sendiri.
Di antaranya, ketika seorang pemimpin mulai arogan, sewenang-wenang, gemar menekan, anti kritik dan merasa paling benar serta memegang jabatan sebagai hak milik pribadi.
Itulah benih-benih perilaku pemimpin yang akan menjadi hukum alam kejatuhan. Meskipun, tidak semua penguasa lalim jatuh seketika. Ada yang bertahan lama, bahkan tampak berjaya bertahun-tahun. Tetapi, ujungnya tetap berakhir jatuh dan tragis.
Baca Juga: FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Dalam sebuah riset tentang hubris syndrome mengungkapkan, kekuasaan yang terlalu lama dan terlalu besar dapat memicu perubahan perilaku seorang pemimpin. Muncul sikap merasa besar sendiri, benar sendiri, keyakinan berlebihan, impulsivitas, dan ketidaksiapan menerima kritik.
Di sinilah kekuasaan mempunyai daya rusak yang sunyi. Ia merusak bukan hanya sistem di luar diri seorang pemimpin, tetapi juga merusak batinnya. Mula-mula lahir rasa paling tahu. Lalu muncul keyakinan bahwa dirinya tak mungkin salah.
Setelah itu kritik dianggap ancaman, hukum dianggap alat, rakyat dianggap objek, dan orang-orang di sekelilingnya hanya dipelihara untuk memujinya.
Sejarah Romawi memberi contoh nyata yang sangat tua, tetapi relevan untuk sekarang ini. Dia adalah Nero. Ia ialah seorang kaisar yang pemerintahannya kejam, menyingkirkan lawan.