Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Memang tak enak didengar, tetapi cukup bersahabat di telinga. Ada stereotip lama yang hidup diam-diam dalam percakapan sosial kita, bahwa orang Sunda dianggap pemalas, bukan pekerja keras, lemah dalam bertarung, kurang berani mengambil risiko, dan tak punya kemampuan dalam memimpin.
Bahkan, Sunda kerap dilekatkan dengan stigma “doyan kawin”.
Tentu, semua itu bukan fakta ilmiah tentang orang Sunda. Ia lebih tepat disebut sebagai mitos sosial. Yaitu, sebuah prasangka yang berulang-ulang diucapkan, lalu lama-lama dianggap sebagai kebenaran.
Baca Juga: Bencana Longsor Bandung Barat : Dedi Mulyadi Kritik Alih Fungsi Kawasan Pegunungan
Meskipun, dalam beberapa kasus membuktikan adanya kebenaran yang mengarah pada mitos tersebut, sama seperti yang juga terjadi pada suku lainnya.
Pada titik inilah sosok Dedi Mulyadi menjadi menarik. Ia bukan hanya tampil sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia juga tampil sebagai antitesis terhadap sejumlah stereotip yang selama ini ditempelkan kepada citra kesundaan.
Dedi membuktikan bahwa manusia Sunda bisa kerja keras, berani mengambil keputusan, kreatif membangun komunikasi publik, mampu memimpin birokrasi besar, sekaligus dicintai rakyatnya.
Paling tidak, dari data terbaru memberi dasar kuat untuk membaca fenomena itu. Survei Indikator Politik Indonesia pada 30 Januari–8 Februari 2026 mencatat kepuasan publik terhadap kinerja Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat mencapai 95,5 persen.
Dedi Mulyadi resmi dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025–2030 bersama Wakil Gubernur Erwan Setiawan pada 20 Februari 2025. Artinya, dalam waktu relatif singkat, ia mampu membangun persepsi kinerja yang sangat kuat di mata publik.
Mitos pertama yang dipatahkan Dedi adalah anggapan bahwa orang Sunda cenderung santai dan kurang berorientasi kerja keras. Dedi justru dikenal sebagai figur yang bergerak hampir tanpa jeda.
Ia turun ke lapangan, meninjau jalan, sungai, sekolah, kawasan kumuh, tambang ilegal, sampai persoalan sosial masyarakat kecil.
Model kepemimpinannya bukan model gubernur yang hanya hidup di balik meja birokrasi. Ia lebih sering hadir sebagai pemimpin lapangan. Di sana, Dedi membangun bahasa politik yang sederhana, bahwa masalah itu harus dilihat, didengar, disentuh, lalu diselesaikan.