Saat orang-orang memenuhi jalanan untuk berpesta, ia masih duduk di depan kursi kosong milik ayahnya.
Trofi suatu hari akan tersimpan di museum. Rekor akan dipecahkan. Para pemain akan pensiun. Nama-nama baru akan menggantikan nama-nama lama.
Namun cinta seorang anak kepada ayahnya tidak pernah diukur oleh papan skor.
Di situlah sepak bola memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi. Ia bukan sekadar permainan. Ia menjadi wadah bagi kenangan, bahasa bagi kasih sayang yang sulit diucapkan, dan ruang tempat kehilangan dapat dikenang tanpa harus dijelaskan.
Tetapi ketika sorak sorai telah reda, setiap manusia tetap harus menjawab pertanyaan yang lebih sunyi. Apa yang membuat hidup ini benar-benar layak dijalani?
Sepak bola dapat menghadiahkan kita perayaan bersama. Namun makna hidup harus ditemukan di tempat yang lebih dalam daripada sebuah stadion.
Lampu stadion akhirnya dipadamkan. Nyanyian para pendukung menghilang bersama malam. Tetapi pencarian manusia tidak pernah benar-benar berakhir.
Sepanjang sejarah, manusia selalu mencari sebuah altar. Yang berubah hanyalah nama altar itu.***
*Denny JA ialah sastrawan dan penulis
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Referensi
- Émile Durkheim. The Elementary Forms of Religious Life. Félix Alcan, 1912.
- Shirl J. Hoffman (ed.). Sport and Religion. Human Kinetics Books, 1992.
- Franklin Foer. How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization. Harper Perennial, 2004
Artikel Terkait
Netizen Pasangankan Anies Baswedan dan Pramono Anung di Pilpres 2029
Stjepan Loncar Asal Bosnia-Herzegovina yang Perkuat Persija Jakarta Jadi Pemain Termahal di Super League
Pemain Terbaik Super League Mariano Peralta dari Borneo FC Berlabuh ke Persib Bandung
Beberapa Perusahaan Penerbangan Membatalkan Layanan Mereka ke Kawasan Teluk
Ferran Torres Mengantarkan Spanyol Juara Dunia