Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap altar memiliki bayangannya sendiri. Semakin besar cinta yang diletakkan manusia di atasnya, semakin besar pula kemungkinan lahirnya fanatisme.

Lapangan hijau tidak terkecuali. Ia dapat menjadi ruang tempat manusia menemukan persaudaraan, tetapi juga tempat manusia lupa bahwa lawan tetaplah sesama manusia yang sama-sama menangis ketika kalah, sama-sama bersorak ketika menang, dan sama-sama pulang kepada keluarganya setelah pertandingan usai.

Ada buku lain, buku ketiga, yang memberikan warning.   How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization (2004) karya Franklin Foer mengajak kita memandang sepak bola sebagai jendela yang paling jernih untuk memahami wajah globalisasi.

Melalui perjalanan ke stadion-stadion di Beograd, Glasgow, Barcelona, Teheran, hingga Rio de Janeiro, Foer memperlihatkan sebuah paradoks yang menggugah.

Globalisasi tidak selalu menghapus identitas lama, tetapi kerap justru mempertajamnya. Di balik gemerlap pertandingan, ia menemukan jejak-jejak hooliganisme Serbia, sektarianisme yang membelah Celtic dan Rangers, serta antisemitisme yang membayangi tribun Ajax dan Tottenham.

Dari sana, ia menelusuri persinggungan sepak bola dengan oligarki bisnis ala Silvio Berlusconi, korupsi yang menggerogoti sepak bola Brasil, hingga arus migrasi pemain Afrika yang mengikuti logika pasar global.

Pada akhirnya, Foer menawarkan sebuah kesimpulan yang bernuansa: nasionalisme yang tumbuh secara sehat dalam sepak bola tidak harus menjadi bibit fanatisme. Ia justru dapat menjadi penyangga yang mencegah manusia terjerumus ke dalam tribalisme yang jauh lebih berbahaya.

Di tengah pusaran bisnis dan ancaman fanatisme itu, manusia toh tetap datang. Mereka tidak hadir untuk komoditas atau industri, melainkan untuk merawat kerinduan paling mendasar dalam jiwanya.

Sepak bola, dengan segala cacat kehidupannya, tetap menjadi ruang langka di mana manusia modern dapat merayakan kerapuhan, membagikan harapan, dan merasakan kehangatan menjadi manusia yang utuh bersama-sama.

Di dalam pesawat menuju London, saya menyaksikan siaran langsung final Argentina melawan Spanyol.

Kabin yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi ruang menonton bersama. Beberapa penumpang menahan napas setiap kali bola mendekati kotak penalti.

Yang lain bertepuk tangan ketika sebuah peluang tercipta. Para awak pesawat hanya tersenyum, memahami bahwa selama seratus dua puluh menit perhatian sebagian besar penumpang tertuju ke tempat yang sama.

Saya membayangkan jutaan rumah di berbagai penjuru dunia sedang menjalani malam yang serupa. Di hotel-hotel mewah, di warung sederhana, di ruang keluarga, bahkan di bandara dan rumah sakit, orang-orang menghentikan sejenak rutinitas hidup mereka untuk menyaksikan pertandingan yang sama.

Untuk beberapa jam, miliaran manusia yang tak pernah saling mengenal dipersatukan oleh satu peristiwa.

Final Spanyol melawan Argentina juga seolah mempertemukan tiga babak kehidupan Lionel Messi dalam satu panggung sejarah. Argentina adalah tanah yang melahirkan darah, bahasa, dan identitasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB
X