Kenapa kita sering merasa harta adalah hasil kerja keras kita sendiri?
Padahal, sekeras apa pun manusia bekerja, jika Allah tidak memberi jalan, kesehatan, kesempatan, jaringan, pelanggan, jabatan, tanah, pasar, dan keberkahan, maka harta itu tidak akan pernah sampai ke tangan kita.
Di sinilah letak problem spiritual kita. Kita sering sangat berhitung dengan Tuhan, tetapi lupa bahwa karunia Tuhan kepada kita tidak pernah bisa dihitung. Padahal, Tuhan baru meminta 10 persen, belum sampai 50 persen.
Kenapa, kita merasa keberatan saat mengeluarkan sebagian kecil dari harta itu, tetapi tidak pernah keberatan ketika menerima limpahan nikmat dari-Nya?
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Spanyol ke Babak 16 Besar Setelah Singkirkan Austria
Padahal, kalau Allah meminta 50 persen pun, secara iman seharusnya kita tunduk. Apalagi jika yang diminta hanya 10 persen dari rezeki yang kita terima.
Zakat bukan sekadar transaksi keagamaan. Zakat adalah pendidikan batin. Ia melatih manusia agar tidak diperbudak oleh harta. Ia membersihkan jiwa dari rakus, pelit, sombong, egois, dan rasa memiliki yang berlebihan.
Dalam harta orang kaya, ada hak orang miskin. Dalam keuntungan besar, ada bagian mereka yang lapar. Dalam rekening yang terus bertambah, ada tanggung jawab sosial yang tidak boleh dikubur oleh keserakahan.
Oleh karena itu, gagasan zakat 10 persen bukan semata tentang menaikkan angka. Ini tentang menaikkan derajat kesadaran umat. Ini tentang menggeser cara pandang: dari zakat sebagai beban, menjadi zakat sebagai jalan keselamatan.
Dari zakat sebagai kewajiban minimal, menjadi zakat sebagai jalan membersihkan diri, menolong sesama, dan membangun bangsa.
Bayangkan jika umat Islam Indonesia, terutama kalangan kaya, pengusaha besar, pejabat, profesional sukses, pemilik lahan, pemilik bisnis, dan mereka yang menikmati keuntungan besar, benar-benar mengeluarkan 10 persen dari rezekinya untuk zakat dan kemaslahatan sosial.
Berapa banyak anak miskin bisa sekolah?
Berapa banyak keluarga lapar bisa makan?
Berapa banyak pesantren, rumah sakit, beasiswa, modal UMKM, rumah layak huni, dan program pemberdayaan rakyat bisa dibangun?
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Amerika Menantang Belgia di Babak 16 Besar
Bali United Datangkan Pemain Serang Asal Belanda Jort van der Sande
Kejaksaan Jebloskan Pejabat Badan Gizi Nasional Lalu Muhammad Iwan ke Tahanan
Persib Bandung Datangkan Sandy Wals dan Luka Menalo
Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Bikin Kolaborasi Untuk Kuatkan Industri Wisata