Baca Juga: Mengapa Jenazah Ali Khamenei Lebih Dari Empat Bulan Baru Dimakamkan?
Seorang ibu boleh jadi menua, melemah, bahkan bergantung kepada anak-anaknya, tetapi ia tidak pernah kehilangan martabatnya sebagai manusia yang dulu mempertaruhkan hidup demi anaknya.
Film ini sangat relevan dengan zaman ketika hubungan keluarga sering terkikis oleh kesibukan. Anak-anak makin mudah pergi jauh, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara emosional.
Bahkan, seorang anak kerap mengambil jalan pintas seolah-olah sayang dengan mudah menitipkan ibunya di Panti Asuhan. Padahal, sesungguhnya, anak tersebut sedang menyakiti ibunya.
Lewat teknologi, seorang anak, misalnya, bisa mengirim pesan singkat kepada ibunya, tetapi tidak punya waktu mendengar keluhannya.
Seorang anak bisa mengunggah foto keluarga saat Hari Ibu, tetapi lupa menanyakan apakah ibunya sudah makan, apakah tubuhnya sehat, apakah hatinya sedang kesepian.
Dalam konteks seperti itu, film Jangan Buang Ibu hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan akar kasih sayang.
Ibu adalah sosok yang hampir selalu memberi sebelum diminta. Ia mencintai sebelum anak mengenal arti cinta. Ia berkorban sebelum anak mengerti arti pengorbanan. Ia berjaga ketika anak sakit, menangis ketika anak terluka, dan tetap mendoakan bahkan ketika anak mulai lupa pulang.
Maka, ketika seorang anak mulai menganggap ibu sebagai gangguan, beban, atau masa lalu yang merepotkan, sesungguhnya yang sedang rusak bukan hanya hubungan keluarga, tetapi juga nurani kemanusiaan.
Film ini penting karena mengangkat luka sosial yang kerap tersembunyi, yaitu orang tua yang terabaikan di usia senja. Banyak ibu yang tidak benar-benar “dibuang” secara fisik, tetapi dibuang secara perhatian.
Yang pasti, pesan utama film ini bukan hanya larangan untuk tidak menelantarkan ibu. Tetapi, lebih dari itu, terdapat pesan, jangan buang ingatan tentang ibu, jangan buang jasa ibu, jangan buang doa ibu, jangan buang air mata ibu, jangan buang rumah batin tempat kita pernah dibesarkan.
Terakhir, sebuah apresiasi patut diberikan kepada Hadrah Daeng Ratu sebagai sutradara, Agung Saputra sebagai produser, dan Leo Pictures sebagai rumah produksi yang berani mengangkat tema keluarga dengan pesan moral yang kuat.
Terutama, di tengah industri hiburan yang sering mengejar sensasi, film seperti ini membawa napas yang lebih teduh, bahwa layar lebar masih bisa menjadi ruang pendidikan batin.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Republik Islam Iran Jalankan Prinsip Kehati-hatian Terhadap Amerika Serikat
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Nofel Saleh Hilabi Sinergikan Penempatan Pekerja Migran Indonesia ke Eropa, Asia Pasifik, dan Timur Tengah
Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru
Mantan Ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto Menemukan Benda Diduga Alat Pelacak di Kendaraannya
Anggota OPM Bersenjata Diduga Mengawal Helikopter yang Mendarat di Pedalaman Papua