WartaPesona.com - "Teteh" adalah sebutan untuk ibu atau perempuan yang lebih tua yang berasal dari bahasa Sunda.
Kata ini digunakan sebagai sebutan akrab dan penghormatan terhadap ibu atau perempuan tua yang dihormati.
Dalam budaya Sunda, teteh memiliki peran yang sangat penting sebagai kakak, yang dituakan, pengasuh, penasehat, dan sosok yang dipuja dan dicintai.
Baca Juga: Alika Islamadina, Traveler Berprestasi di Dunia Musik dan Fashion, Mengajak Berwisata Domestik ke Desa Wisata
Sejarah penggunaan kata "teteh" sebagai sebutan untuk ibu atau perempuan yang lebih tua dalam budaya Sunda tidak pasti.
Namun, kemungkinan besar kata ini berasal dari bahasa Sunda kuno dan mengalami evolusi seiring berjalannya waktu.
Dalam budaya Sunda, kata "teteh" menjadi sebuah ungkapan penghormatan dan cinta terhadap ibu atau perempuan yang lebih tua yang dihormati.
Baca Juga: Pasien BPJS Kesehatan, Lasiah Menceritakan Saat Operasi Benjolan di Bawah Lidah, Ini Pengalamannya
Penggunaan kata "teteh" sangat umum dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.
Istilah "teteh" dalam bahasa Sunda sudah ada sejak lama dan merupakan bagian dari budaya dan tradisi setempat.
Namun, tidak ada catatan yang pasti tentang kapan istilah ini mulai digunakan.
Baca Juga: Kemenkes Jamin Kesehatan Ibu Melahirkan dengan Program Jampersal
Istilah ini mungkin telah digunakan selama berabad-abad dalam budaya Sunda dan terus berkembang dan beradaptasi seiring dengan perubahan waktu dan perkembangan budaya.
Jika seorang perempuan dipanggil "teteh" dalam bahasa Sunda, maka lawannya, seorang laki-laki sering dipanggil "Aa, Kang atau Akang".
Kata "Aa, Kang atau Akang" juga merupakan sebutan akrab dan penghormatan terhadap laki-laki tua atau saudara laki-laki dalam budaya Sunda.
Baca Juga: Angela Tanoesoedibjo Wamenparekraf: TRAVEX Jadi Jembatan Pelaku Parekraf Perluas Pasar Internasiona
Istilah yang sama di bahasa lain
Bahasa daerah lain yang memiliki panggilan yang serupa dengan "teteh" dalam bahasa Sunda adalah:
"Mpok" dalam bahasa Betawi.
"Mbak" dalam bahasa Jawa.
"Kakak" dalam bahasa Indonesia pada umumnya
Artikel Terkait
Sandiaga Uno Menparekraf: Pekan Budaya Tionghoa Kampung Ketandan Perkuat Ekonomi Masyarakat Yogyakarta
Presiden Menegaskan Bahwan ASEAN Tidak Boleh Jadi Proksi Siapa pun
Kabar Gembira! Ingin Dapatkan Hadiah Perjalanan Umroh Gratis Yuk, Tingkatkan Transaksi di KAI Access
Buka SEABEF, Sandiaga Uno Menparekraf Dorong ASEAN Sebagai Episentrum Event Berskala Internasional
Angela Tanoesoedibjo Wamenparekraf: TRAVEX Jadi Jembatan Pelaku Parekraf Perluas Pasar Internasiona
Sustainable Living dalam Kemewahan: Green Village, Sebuah Destinasi Wisata Indah yang Hanya 30 Menit dari Ubud
Hasil Wolves vs Liverpool : Liverpool Gagal Saat Berhadapan dengan Semangat Wolves, 3 - 0, The Reds Hancur!
Dewa 19 Sukses Pesta Rakyat 30 Tahun di Jakarta. 5 Maret di Bandung : Ada Ahmad Dhani, Tyo Nugros, Ari Lasso
Sandiaga Uno Menparekraf: ASEAN Harus Perkuat Kolaborasi Bangkitkan Ekonomi Melalui Pariwisata
Road to UFC Jeka Saragih vs Anshul Jubli. Jeka Melangkah ke Final dengan Dua Kemenangan KO. Siaran Langsung TV