Baca Juga: Kemenangan Dramatis Lazio atas Udinese dalam Pertandingan Liga Italia: Gol Immobile Menentukan Nasib
Industri rokok ini berkembang pesat dari waktu ke waktu. Saat berjualan rokok, ia bertemu dengan pedagang rokok Lie Thay San dan The Kia Hoat. Perkenalan ini membuka jalan bagi Tjio untuk mulai serius berbisnis.
Tjio mendirikan perusahaan dagang dengan dua temannya saat dia baru berusia 20 tahun. Pendanaan pertama perusahaan ini, seperti yang pertama, datang melalui perilaku tidak jujur.
Perusahaan di Jl. Kramat awalnya berniat menjual rokok dan bir. Namun karena banyaknya penggemar buku di Indonesia, Tjio, CEO perusahaan, memutuskan untuk fokus pada jual beli buku.
Baca Juga: Situ Gede : Objek Wisata yang Perlu Mendapatkan Perhatian Pemerintah
Gatra mencatat bahwa perusahaan pertama-tama berfokus pada penjualan buku berbahasa asing yang diterima dari koneksi Belanda Tjio. Karena pasar buku di Indonesia masih kecil, Thay San Kongsi laris manis. Kehidupan Tjio mulai normal.
Tjio berinisiatif untuk mengembangkan perusahaannya menjadi perusahaan yang lebih besar lima tahun setelah pendiriannya. Sayangnya, Lie Thay San dan The Kia Hoat tidak setuju dengan hal ini. Mereka akhirnya berpisah dan berpisah jalan.
Tjio mengganti nama Thay San Kongsi menjadi NV Gunung Agung pada 8 September 1953. Gunung Agung berhasil memamerkan lebih dari 10.000 buku dengan modal Rp. 500.000 saat peluncuran toko yang berlokasi di Kramat 13.
Baca Juga: Rancamaya Golf Estate, Situs Perkebunan Golf Indonesia Skala Internasional
Saat itu, hanya sedikit toko buku yang bisa menjual puluhan ribu volume. Alhasil, Gunung Agung dengan cepat menjadi pusat jual beli buku di Jakarta. Banyak jurnalis dan penulis ingin menjual buku mereka di sana.
Tjio punya konsep unik untuk meninggikan Gunung Agung yang tidak hanya sampai di situ. Hal ini dapat dicapai melalui pameran buku. Pameran buku perdananya digelar di Gunung Agung pada 1954. Banyak yang datang, termasuk Sukarno dan Hatta, yang juga pecinta buku dan berkenalan dengan Tjio.
Pameran demi pameran berlangsung di beberapa kota baik di dalam maupun di luar negeri sepanjang waktu. Begitu juga dengan toko Gunung Agung yang telah melahirkan banyak cabang di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Rancamaya Golf Estate, Situs Perkebunan Golf Indonesia Skala Internasional
Sukarno memercayai Tjio untuk mengawasi penerbitan dan distribusi buku-bukunya karena pentingnya nama Gunung Agung. Gunung Agung menjadi penerbit dan distributor utama buku-buku Bung Karno sejak tahun 1960.
Di sinilah masa keemasan Gunung Agung dimulai. Menurut Apa dan Siapa? (2004), Gunung Agung mulai bermain di sektor pariwisata, perhotelan, dan pertukaran uang pada tahun 1970-an, ketika tidak lagi terbatas pada penerbitan dan penjualan buku.
Artikel Terkait
Perjalanan Kisah Sukses Jack Ma, Pendiri Alibaba Group
Investor Millenial Mengalami Pertumbuhan di Pasar Modal Indonesia
Strategi Digital Marketing untuk Meningkatkan Omset Bisnis, Wajib Dilakukan Sebelum Memulai!
Mengoptimalkan Potensi Pasar Digital: Mengapa Marketplace Adalah Pilihan Tepat bagi Penjual Online
Kisah Sukses Mark Zuckerberg: Membangun Facebook dari Nol
Kisah Sukses Pendiri Gojek: Melawan Segala Kendala dan Berhasil Menjadi Perusahaan Unicorn
Inovasi Bisnis dengan Pendekatan Design Thinking
Simak: Tips Cerdas Menghindari Rayuan Investasi Bodong
Simak 4 Jenis Investasi dengan Risiko Rendah untuk Investor Pemula
Beberapa Langkah Utama Untuk Menjadi Womenpreneur Yang Sukses!