Hasil dari pendampingan dan workshop telah terbukti berhasil mengubah budaya bisnis IKM, meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca tren pasar.
Beberapa IKM bahkan meluncurkan lini produk baru yang mendapat sambutan positif. Misalnya, IKM Batik Lasem Pusaka Beruang meluncurkan merek baru untuk batik premium dengan zat warna alami.
Peserta program ini turut berpartisipasi dalam Pameran Inacraft dan Trade Expo Indonesia 2023, di mana mereka tidak hanya mendapatkan penjualan retail, tetapi juga membangun jejaring bisnis internasional.
“Dari Pameran Inacraft, mereka menjalin kontak bisnis dengan berbagai negara, termasuk AS, Australia, dan Jepang,” tambah Reni.
Sebagai contoh, IKM Kyria Rezeki dari Kepulauan Riau berhasil menjalin kerjasama dengan Hotel Four Point dan mendapatkan pesanan dari Singapura.
IKM Rendang Riry juga memperoleh pesanan dari Australia, sementara IKM Risman Wijaya Keramik menarik minat buyer dari Argentina.
Sampai akhir September 2024, total omzet sepuluh peserta program mencapai lebih dari Rp 21 miliar, dengan penjualan ekspor mencapai 22,08%, meningkat dibandingkan tahun lalu.
Kemenperin memastikan bahwa peserta kembali diikutsertakan dalam Pameran Trade Expo Indonesia 2024 yang berlangsung pada 9-12 Oktober 2024. ***(HA)
Artikel Terkait
Mencari Sumber Modal untuk UMKM: Panduan Lengkap untuk Pemilik Usaha
Memberdayakan UMKM: Kunci Menuju Ekonomi Indonesia yang Tangguh
UMKM Rajutan Baju: Memadukan Tradisi dan Inovasi untuk Mengembangkan Bisnis
UMKM Sepatu Indonesia: Menjaga Tradisi dan Berinovasi di Era Digital
Potensi ekonomi tahun 2025 di Yogyakarta, dari pariwisata, pertanian, dan UMKM akan jadi sektor unggulan