Hidup di Tengah Krisis Air Bersih, Warga Tamiang Hulu Gunakan Air Banjir untuk Aktivitas Sehari-hari

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 30 Desember 2025 | 10:01 WIB
Warga di Tamiang Hulu, Aceh Tamiang menggunakan air sisa banjir untuk beraktivitas - WartaPesona.com (Lamongan Network - Jatim Network)
Warga di Tamiang Hulu, Aceh Tamiang menggunakan air sisa banjir untuk beraktivitas - WartaPesona.com (Lamongan Network - Jatim Network)

Keadaan darurat memaksa warga menerima risiko demi bertahan hidup.

Meski menyadari bahaya kesehatan yang mengintai, keterbatasan distribusi bantuan air bersih membuat mereka tidak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penggunaan air yang tidak layak ini berpotensi menimbulkan penyakit lanjutan, mulai dari penyakit kulit, infeksi saluran pencernaan, hingga gangguan kesehatan lainnya, terutama bagi anak-anak dan lansia yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

Baca Juga: Jalan Terputus, Warga Rusip Antara Aceh Tengah Bangun Jembatan Darurat Secara Manual

Air Bersih dan Layanan Medis Jadi Kebutuhan Mendesak Pascabanjir

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2018–2021, dr. Daeng Mohammad Faqih,

menegaskan bahwa ketersediaan air bersih dan obat-obatan merupakan kebutuhan paling krusial dalam penanganan situasi darurat akibat bencana.

“Ketersediaan air dan makanan ini penting banget. Kalau tidak tersedia, maka mungkin timbul komplikasi penyakit yang lain. Itu yang dikhawatirkan,” ujarnya, dikutip dari podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Ia menjelaskan bahwa bencana banjir memiliki spektrum dampak kesehatan yang luas, sehingga membutuhkan penanganan medis yang spesifik dan cepat.

Menurutnya, penempatan tenaga medis di lokasi bencana harus disesuaikan dengan karakter penyakit yang muncul akibat banjir.

“Lini pertama itu dokter penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bencana banjir.

Banjir itu air, misalnya terhirup ke paru-paru, termakan ke saluran cerna, kena mata jadi penyakit mata, kena kulit jadi penyakit kulit,” paparnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kehadiran dokter spesialis yang relevan di wilayah terdampak.

“Jadi, lini pertama dokter itu berbeda. Yang harus dikirim itu misalnya dokter penyakit dalam, dokter paru, kemudian dokter mata, dokter kulit,” tukasnya.

Baca Juga: Perjuangan Truk PLN Tembus Jalan Berlumpur di Aceh Tengah, Warga Turun Tangan Bantu Perbaikan Listrik

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

PWI Mengecam Pernyataan Hotman Paris Hutapea

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:45 WIB
X