Intan juga menekankan pentingnya memperkenalkan budaya Indonesia sejak dini melalui destinasi wisata lokal yang kaya akan nilai kebudayaan.
Sementara itu, Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriawan Salim, menggarisbawahi pentingnya menghindari pelarangan total study tour. Menurutnya, pendekatan yang tepat adalah memastikan adanya standar yang menjamin kualitas dan keamanan kegiatan tersebut.
“Kita tidak ingin tour tanpa study. Kita perlu standar yang mengatur jumlah pembimbing, keamanan, serta substansi edukasinya,” ungkap Satriawan.
Diskusi ini menjadi langkah awal untuk menyelaraskan pemikiran antar pemangku kepentingan, dari pemerintah, pelaku pariwisata, hingga pendidik, dalam membentuk arah baru wisata edukasi di Indonesia yang aman, mendidik, dan berkelanjutan.***
Artikel Terkait
Kemenpar dan Asosiasi Pariwisata Bersatu, Bali Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Libur Natal & Tahun Baru 2025: Strategi Kemenpar Tingkatkan Wisata dan Ekonomi Nasional
Pra-Rakornas Kemenpar: Membangun Pariwisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Pentahelix
Kemenpar Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Lewat Kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) dan Inovasi Digital
Penurunan Mobilitas di Pulau Bali Selama Libur Nataru 2024: Kemenpar Nyatakan Wisata Tetap Aman dan Nyaman
Kolaborasi Menyambut Wisman 2025: Kemenpar Perkuat Tiga Pintu Masuk Utama Indonesia
Gerakan Wisata Bersih: Kemenpar Gelar Program Unggulan untuk Kebersihan Destinasi dan Keselamatan Wisatawan
Menpar Widiyanti Putri Wardhana Lantik Pejabat Baru di Kemenpar, Tegaskan 7 Prinsip untuk Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan
Sinergi Global untuk Pariwisata Indonesia: Kemenpar dan Qatar Airways Perluas Jangkauan Promosi Internasional
Koperasi Merah Putih: Sinergi Strategis Kemenpar dan Kemenkop Bangkitkan Potensi Desa Wisata