Itulah sebabnya sepak bola dapat menghadirkan pengalaman yang dalam banyak hal menyerupai fungsi sosial agama.
Buku kedua adalah Sport and Religion, disunting oleh Shirl J. Hoffman dan diterbitkan pada 1992.
Jika Durkheim menjelaskan mengapa olahraga mampu menyatukan manusia, Hoffman mengajak kita melihat hubungan yang lebih dalam antara pengalaman olahraga dan pengalaman spiritual.
Berbagai tulisan di dalam buku itu menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik. Ia juga mengandung disiplin, pengorbanan, kesetiaan, keberanian, kerendahan hati, dan pencarian makna, nilai-nilai yang sejak lama dikenal dalam hampir setiap tradisi keagamaan.
Seorang atlet elite menjalani kehidupan yang nyaris asketis. Ia mengendalikan makanan, tidur, tubuh, dan keinginannya. Ia rela menanggung rasa sakit hari ini demi hasil yang mungkin baru datang bertahun-tahun kemudian.
Ia percaya bahwa pengorbanan yang diulang setiap hari akan membawanya menuju pencapaian yang lebih tinggi.
Kesetiaan para pendukung pun mengikuti pola yang serupa. Klub boleh kalah, pelatih boleh berganti, pemain boleh pindah, bahkan generasi boleh berubah.
Namun kecintaan kepada sebuah tim tetap diwariskan dari orang tua kepada anak. Sebagaimana Mateo menerima kecintaannya kepada tim nasional Spanyol dari sang ayah, jutaan keluarga di berbagai belahan dunia mewariskan identitas sepak bola sebagai bagian dari sejarah keluarga mereka sendiri.
Kesetiaan seperti itu tidak lahir dari logika semata. Ia tumbuh dari kenangan yang dibangun bersama, dari air mata, pelukan, kemenangan, kekalahan, dan cerita yang terus diulang di ruang keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun Hoffman juga mengingatkan bahwa setiap hal yang memberi makna besar kepada manusia selalu membawa kemungkinan untuk disalahgunakan.
Olahraga dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi juga dapat berubah menjadi berhala. Kemenangan menjadi ukuran harga diri. Kekalahan berubah menjadi penghinaan yang tidak lagi proporsional.
Atlet dipuja seperti manusia setengah dewa, sementara lawan diperlakukan bukan lagi sebagai sesama manusia, melainkan sebagai musuh yang pantas dibenci.
Komersialisasi memperbesar bahaya itu. Kesetiaan diubah menjadi pasar. Cinta penggemar diterjemahkan menjadi angka penjualan. Seragam menjadi komoditas. Identitas berubah menjadi merek.
Tubuh atlet diperlakukan sebagai mesin yang harus terus menghasilkan kemenangan. Olahraga yang semula membangkitkan kemanusiaan perlahan dapat terjebak dalam logika industri yang tidak pernah mengenal kata cukup.
Di situlah tampak paradoks sepak bola. Ia mampu mempertemukan orang-orang yang tidak pernah saling mengenal, tetapi juga dapat memecah belah mereka. Ia menghadirkan pelukan, tetapi juga melahirkan hooliganisme, rasisme, dan nasionalisme yang kehilangan kebijaksanaan.