Namun ia menjalankan sebagian fungsi sosial yang dahulu terutama diberikan oleh agama: membentuk identitas, menciptakan komunitas, melahirkan ritual, menghadirkan simbol yang diperlakukan hampir sakral, serta memberi pengalaman emosional kolektif yang membuat seseorang merasa dirinya sedang disentuh oleh sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena itu, yang dicari manusia di stadion sering kali bukan sekadar kemenangan. Yang mereka cari adalah keyakinan bahwa dirinya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Duka Mateo membuktikan bahwa sepak bola adalah katedral sunyi; tempat di mana kesedihan pribadi berjalin rapat dengan sorak sorai publik, mengubah ruang keluarga sederhana menjadi altar perjumpaan jiwa.
Tiga buku ini membantu kita memahami mengapa sepak bola dapat memperoleh kekuatan emosional yang sedemikian besar. Buku pertama adalah The Elementary Forms of Religious Life karya Émile Durkheim, terbit pada 1912.
Émile Durkheim tidak pernah menulis tentang sepak bola. Namun lebih dari seabad setelah bukunya terbit, pemikirannya justru membantu kita memahami mengapa sebuah pertandingan mampu mengguncang emosi miliaran manusia.
Bagi Durkheim, agama bukan semata hubungan manusia dengan dunia gaib. Agama adalah kekuatan sosial yang menyatukan individu menjadi sebuah komunitas moral.
Melalui ritual bersama, manusia mengalami apa yang ia sebut collective effervescence, yaitu ledakan emosi kolektif yang membuat seseorang seolah terangkat keluar dari dirinya sendiri dan larut ke dalam energi kelompok.
Pengalaman itulah yang berulang kali lahir di stadion sepak bola. Puluhan ribu orang yang sebelumnya tidak saling mengenal tiba-tiba berdiri, bernyanyi, menahan napas, melompat, berpelukan, dan menangis bersama.
Selama beberapa jam, perbedaan pekerjaan, pendidikan, kekayaan, usia, bahkan pandangan politik seakan menghilang. Mereka tidak lagi hadir sebagai individu yang terpisah, melainkan menjelma menjadi satu tubuh emosional.
Di sinilah simbol memperoleh kekuatannya. Bendera bukan lagi selembar kain. Lambang tim bukan sekadar gambar. Warna kostum tidak lagi hanya pilihan desain. Semuanya berubah menjadi totem yang mewakili identitas kolektif sebuah komunitas.
Ketika seorang pendukung berkata, “Kami menang,” ia tidak sedang berbicara secara metaforis. Ia tidak pernah berlatih, tidak menendang bola, bahkan mungkin tidak pernah menginjak rumput stadion.
Namun kemenangan itu sungguh ia rasakan sebagai kemenangan dirinya sendiri karena identitas pribadinya telah menyatu dengan identitas kelompok yang didukungnya.
Durkheim membantu kita memahami bahwa dalam setiap ritual besar, masyarakat sesungguhnya sedang merayakan dirinya sendiri. Ketika jutaan orang menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai, yang sedang dirayakan bukan hanya sebelas pemain di lapangan, melainkan keberadaan sebuah bangsa dan rasa memiliki terhadap komunitasnya.
Untuk beberapa saat, manusia berhasil mengalahkan salah satu ketakutan paling purba dalam hidup, yaitu perasaan sendirian.
Tidak mengherankan apabila begitu banyak orang berkata bahwa mereka benar-benar “hidup” ketika tim kesayangannya bermain. Yang mereka alami bukan sekadar pertandingan, melainkan pengalaman kolektif yang memberi rasa memiliki, persaudaraan, dan makna.