Baca Juga: Spanyol Sudah Dua Kali Menjadi Juara Dunia
Di setiap benua, di kota yang hiruk maupun desa yang sunyi, berjuta-juta orang sesungguhnya sedang mencari hal yang sama, yaitu sebuah ruang tempat mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Di zaman ketika ikatan keluarga semakin renggang, komunitas tradisional kian mengecil, dan kesepian diam-diam menjadi salah satu penyakit terbesar kehidupan modern, sepak bola menghadirkan sesuatu yang semakin langka, yaitu sebuah ritual bersama.
Selama seratus dua puluh menit, orang asing menjadi saudara. Kesepian berubah menjadi kebersamaan. Perbedaan sosial larut di balik warna seragam yang sama. Hati yang tercerai-berai kembali percaya bahwa ia tidak sedang menjalani hidup sendirian.
Sejak Piala Dunia pertama digelar di Uruguay pada 1930, sepak bola perlahan melampaui batas sebuah olahraga. Ia berkembang menjadi salah satu pengalaman kolektif terbesar dalam sejarah manusia.
Baca Juga: Kylian Mbappe Meraih Sepatu Emas
Perang pernah memecah bangsa-bangsa. Ideologi pernah membangun tembok pemisah. Agama, bahasa, warna kulit, bahkan kelas sosial sering menempatkan manusia di sisi yang berbeda. Namun setiap empat tahun sekali, miliaran orang rela menghentikan rutinitas mereka untuk memandang lapangan yang sama.
Pada Piala Dunia 2018, sekitar 3,57 miliar orang menyaksikan setidaknya sebagian pertandingan. Empat tahun kemudian, final Argentina melawan Prancis disaksikan hampir 1,5 miliar orang, sementara sekitar lima miliar manusia berinteraksi dengan berbagai konten Piala Dunia Qatar 2022 melalui televisi maupun perangkat digital.
Piala Dunia 2026 menjadi lebih besar lagi. Untuk pertama kalinya, empat puluh delapan negara bertanding dalam seratus empat pertandingan yang digelar di enam belas kota di tiga negara tuan rumah. Seluruh perjalanan itu akhirnya bermuara pada satu laga terakhir: Spanyol melawan Argentina, juara Eropa menghadapi juara bertahan dunia.
Namun kebesaran Piala Dunia sesungguhnya tidak terletak pada angka-angka itu. Yang membuatnya menyerupai agama modern adalah pengalaman batin yang lahir di sekelilingnya.
Ada stadion yang diperlakukan seperti katedral. Ada lagu kebangsaan yang dinyanyikan layaknya himne. Ada seragam yang dikenakan bukan sekadar pakaian, melainkan identitas. Ada perjalanan menuju stadion yang menyerupai ziarah. Ada hari pertandingan yang ditunggu sebagaimana hari raya. Ada para pahlawan, para martir, para pengkhianat, serta kisah kejatuhan dan penebusan.
Dan selalu ada doa.
Di ruang ganti, di tribun, di ruang keluarga, di warung kopi, di bandara, di kapal, hingga di dalam pesawat, manusia menangkupkan tangan sambil memohon hasil yang sama.
Mereka mungkin menyebut nama Tuhan yang berbeda dan datang dari bangsa yang berjauhan. Namun selama pertandingan berlangsung, mereka berbagi harapan yang sama.
Tentu saja, sepak bola bukan agama dalam pengertian teologis. Ia tidak menjawab asal-usul manusia, tujuan terakhir kehidupan, ataupun apa yang menanti sesudah kematian.