Sebab Habibie bukan catatan kaki dalam sejarah Indonesia. Ia adalah salah satu bab penting dalam perjalanan bangsa ini.
Jika Kapolri ingin menjadikan ziarah ini sebagai refleksi kebangsaan menjelang hari Bhayangkara, lengkapilah refleksi itu dengan menghormati Habibie. Sebab bangsa besar bukan hanya bangsa yang menghormati pendiri republik, pemimpin pembangunan, atau tokoh pluralisme, tetapi juga bangsa yang menghormati ilmuwan-negarawan yang pernah menjaga Indonesia di masa transisi paling genting.
Habibie layak diziarahi. Bukan hanya karena ia mantan presiden, tetapi karena ia adalah simbol bahwa Indonesia pernah punya mimpi besar, menjadi bangsa yang maju, cerdas, demokratis, dan percaya diri di hadapan dunia.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi