opini

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Pelajaran terbesar buku ini bukan bahwa krisis pasti akan datang. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa kerendahan hati lebih berharga daripada rasa percaya diri yang berlebihan.

Bangsa yang sehat bukan bangsa yang merasa kebal terhadap krisis, melainkan bangsa yang terus memperbaiki diri bahkan ketika keadaan terlihat baik-baik saja.

Buku kedua adalah Manias, Panics, and Crashes karya Charles Kindleberger.

Kindleberger menunjukkan bahwa pasar keuangan sesungguhnya adalah panggung besar tempat emosi manusia memainkan perannya. Ketakutan, harapan, optimisme, dan kepanikan sering kali bergerak lebih cepat daripada data ekonomi.

Oleh karena itu, pelemahan rupiah tidak selalu berarti ekonomi sedang runtuh. Kadang-kadang pasar hanya sedang memperdebatkan masa depan. Kadang-kadang yang bergejolak bukan ekonomi riil, melainkan imajinasi kolektif tentang apa yang mungkin terjadi esok hari.

Buku ini mengingatkan kita bahwa ekonomi pada akhirnya bukan hanya soal uang. Ekonomi juga soal psikologi. Dan psikologi selalu bermuara pada satu hal yang sama: kepercayaan.

Saya masih ingat ketika pertama kali mempelajari krisis 1998 secara mendalam. Waktu itu saya melihat satu angka di layar kurs mampu mengubah nasib jutaan orang.

Toko-toko tutup. Pabrik berhenti beroperasi. Orang tua kehilangan pekerjaan. Mahasiswa turun ke jalan. Pemerintahan berganti.

Yang paling membekas bukan angka kursnya. Yang paling membekas adalah wajah-wajah yang saya temui ketika itu. Wajah para ayah yang kehilangan pekerjaan, ibu yang menunda kebutuhan keluarga, dan anak-anak yang tiba-tiba harus mengubur sebagian mimpinya.

Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa ekonomi tidak pernah sekadar statistik.

Di balik setiap angka selalu ada manusia. Selalu ada keluarga. Selalu ada mimpi yang sedang diperjuangkan.

Oleh karena itu, saya memandang situasi hari ini dengan dua kacamata sekaligus.

Sebagai analis, saya melihat data yang menunjukkan bahwa fundamental Indonesia masih relatif kuat. Sebagai warga negara, saya memahami kegelisahan masyarakat ketika melihat rupiah terus melemah.

Kedua perspektif itu sama-sama penting.

Kita tidak boleh panik. Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan pesan yang sedang disampaikan pasar.

Halaman:

Tags

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB