Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Seorang dokter tidak menilai kesehatan seseorang hanya dari ekspresi wajahnya. Ia memeriksa tekanan darah, denyut jantung, kadar gula, fungsi paru-paru, dan berbagai organ vital lainnya.

Begitu pula ketika menilai kesehatan ekonomi sebuah negara. Kurs rupiah hanyalah salah satu gejala yang terlihat di permukaan. Untuk mengetahui apakah ekonomi benar-benar sehat atau tidak, kita harus memeriksa organ-organ vitalnya.

Lalu apa saja yang biasanya digunakan untuk mengukur fundamental ekonomi?

Para ekonom umumnya melihat sedikitnya tujuh indikator utama.

Pertama, pertumbuhan ekonomi. Negara yang sehat biasanya mampu tumbuh di atas pertumbuhan penduduknya. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, pertumbuhan di atas 5 persen per tahun umumnya dianggap baik.

Kedua, inflasi. Inflasi yang terlalu tinggi menggerus daya beli rakyat, tetapi inflasi yang terlalu rendah juga dapat menunjukkan ekonomi yang lesu. Untuk Indonesia, kisaran sekitar 2 hingga 4 persen dianggap sehat.

Ketiga, cadangan devisa. Ini adalah tabungan nasional dalam bentuk mata uang asing yang dapat digunakan untuk membayar impor dan kewajiban luar negeri.

Semakin besar cadangan devisa, semakin kuat kemampuan negara menghadapi gejolak global. Standar internasional biasanya menganggap cadangan yang mampu membiayai minimal tiga bulan impor sebagai batas aman.

Keempat, kondisi fiskal pemerintah. Salah satu ukuran utamanya adalah defisit anggaran. Semakin besar defisit, semakin besar kebutuhan utang baru. Di Indonesia, batas defisit 3 persen dari Produk Domestik Bruto selama bertahun-tahun menjadi simbol disiplin fiskal.

Kelima, tingkat utang pemerintah. Negara berkembang umumnya masih dianggap cukup aman jika rasio utangnya jauh di bawah 60 persen dari Produk Domestik Bruto. Semakin rendah rasio utang, semakin besar ruang negara menghadapi krisis.

Keenam, kesehatan sistem perbankan. Bank adalah jantung sistem ekonomi. Jika perbankan rapuh, guncangan kecil dapat berubah menjadi krisis besar. Karena itu tingkat permodalan bank dan kualitas kredit menjadi ukuran penting.

Ketujuh, neraca eksternal, terutama kemampuan negara memperoleh devisa dari ekspor, investasi, dan berbagai sumber pendapatan luar negeri. Negara yang terlalu bergantung pada utang luar negeri biasanya lebih rentan terhadap gejolak kurs.

Jika menggunakan ukuran-ukuran tersebut, kondisi Indonesia saat ini masih relatif kuat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2026 mencapai sekitar 5,61 persen, berada di atas banyak negara berkembang maupun negara maju.

Inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Cadangan devisa pada April 2026 mencapai sekitar US$146 miliar, jumlah yang cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor, jauh di atas standar minimum internasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat

Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:40 WIB
X