Seorang dokter tidak menilai kesehatan seseorang hanya dari ekspresi wajahnya. Ia memeriksa tekanan darah, denyut jantung, kadar gula, fungsi paru-paru, dan berbagai organ vital lainnya.
Begitu pula ketika menilai kesehatan ekonomi sebuah negara. Kurs rupiah hanyalah salah satu gejala yang terlihat di permukaan. Untuk mengetahui apakah ekonomi benar-benar sehat atau tidak, kita harus memeriksa organ-organ vitalnya.
Lalu apa saja yang biasanya digunakan untuk mengukur fundamental ekonomi?
Para ekonom umumnya melihat sedikitnya tujuh indikator utama.
Pertama, pertumbuhan ekonomi. Negara yang sehat biasanya mampu tumbuh di atas pertumbuhan penduduknya. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, pertumbuhan di atas 5 persen per tahun umumnya dianggap baik.
Kedua, inflasi. Inflasi yang terlalu tinggi menggerus daya beli rakyat, tetapi inflasi yang terlalu rendah juga dapat menunjukkan ekonomi yang lesu. Untuk Indonesia, kisaran sekitar 2 hingga 4 persen dianggap sehat.
Ketiga, cadangan devisa. Ini adalah tabungan nasional dalam bentuk mata uang asing yang dapat digunakan untuk membayar impor dan kewajiban luar negeri.
Semakin besar cadangan devisa, semakin kuat kemampuan negara menghadapi gejolak global. Standar internasional biasanya menganggap cadangan yang mampu membiayai minimal tiga bulan impor sebagai batas aman.
Keempat, kondisi fiskal pemerintah. Salah satu ukuran utamanya adalah defisit anggaran. Semakin besar defisit, semakin besar kebutuhan utang baru. Di Indonesia, batas defisit 3 persen dari Produk Domestik Bruto selama bertahun-tahun menjadi simbol disiplin fiskal.
Kelima, tingkat utang pemerintah. Negara berkembang umumnya masih dianggap cukup aman jika rasio utangnya jauh di bawah 60 persen dari Produk Domestik Bruto. Semakin rendah rasio utang, semakin besar ruang negara menghadapi krisis.
Keenam, kesehatan sistem perbankan. Bank adalah jantung sistem ekonomi. Jika perbankan rapuh, guncangan kecil dapat berubah menjadi krisis besar. Karena itu tingkat permodalan bank dan kualitas kredit menjadi ukuran penting.
Ketujuh, neraca eksternal, terutama kemampuan negara memperoleh devisa dari ekspor, investasi, dan berbagai sumber pendapatan luar negeri. Negara yang terlalu bergantung pada utang luar negeri biasanya lebih rentan terhadap gejolak kurs.
Jika menggunakan ukuran-ukuran tersebut, kondisi Indonesia saat ini masih relatif kuat.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2026 mencapai sekitar 5,61 persen, berada di atas banyak negara berkembang maupun negara maju.
Inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Cadangan devisa pada April 2026 mencapai sekitar US$146 miliar, jumlah yang cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor, jauh di atas standar minimum internasional.
Artikel Terkait
Lelaki Amerika Pelaku Pencabulan Bersembunyi di Bungker di Depok Jawa Barat
Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara
Akan Buka-bukaan, Eks Petinggi BGN Sony Sonjaya Bersedia Menjadi Justice Collaborator
Suami Lahir 1984 dan Istri Lahir 1990, Punya 13 Anak
Indonesia Naik Empat Tingkat di FIFA Setelah Menang Melawan Oman