Oleh karena itulah, pelemahan rupiah tidak boleh diremehkan. Ia mungkin belum menjadi krisis, tetapi jika berlangsung terlalu lama, ia dapat berubah menjadi pajak tak terlihat yang dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia.
Mengapa situasi sekarang tetap berbeda jauh dibandingkan krisis 1998?
Perbedaan pertama terletak pada sistem perbankan. Pada tahun 1998, banyak bank sebenarnya sudah rapuh bahkan sebelum krisis datang. Ketika rupiah jatuh, keruntuhan nilai tukar segera menjalar menjadi keruntuhan sistem keuangan.
Hari ini situasinya berbeda. Perbankan Indonesia memiliki modal yang lebih kuat, regulasi yang lebih baik, dan pengawasan yang jauh lebih ketat.
Perbedaan kedua terletak pada kondisi fiskal negara. Pada masa krisis Asia, kemampuan pemerintah untuk meredam guncangan sangat terbatas.
Hari ini Indonesia memiliki cadangan devisa yang besar, akses pembiayaan yang lebih luas, serta pengalaman panjang menghadapi berbagai krisis global, mulai dari krisis keuangan dunia hingga pandemi. Negara memiliki bantalan yang jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu.
Perbedaan ketiga adalah stabilitas politik. Krisis 1998 bukan hanya krisis ekonomi. Ia juga merupakan krisis legitimasi politik yang akhirnya melahirkan perubahan rezim.
Sekarang ini Indonesia memiliki sistem demokrasi yang jauh lebih terbuka. Ketidakpuasan publik masih dapat disalurkan melalui pemilu, media, parlemen, dan berbagai institusi demokrasi lainnya.
Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya guncangan politik sebesar 1998 jauh lebih kecil.
Pelajaran dari dua buku besar
Dua buku dapat membantu kita memahami fenomena ini secara lebih mendalam.
Buku pertama adalah This Time Is Different karya Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff yang terbit pada tahun 2009.
Setelah meneliti lebih dari delapan abad sejarah krisis keuangan di berbagai negara, keduanya menemukan sebuah ironi yang terus berulang.
Hampir setiap generasi percaya bahwa kali ini berbeda. Hampir setiap generasi yakin bahwa sistem ekonomi modern telah cukup canggih untuk menghindari kesalahan masa lalu.
Namun sejarah menunjukkan sebaliknya. Krisis sering datang justru ketika rasa percaya diri mencapai titik tertinggi. Ketika semua orang merasa aman, kewaspadaan perlahan menghilang.