opini

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Di sisi fiskal, defisit anggaran masih berada di bawah batas 3 persen Produk Domestik Bruto yang selama ini menjadi pagar kehati-hatian.

Rasio utang pemerintah juga masih jauh di bawah banyak negara maju. Sistem perbankan memiliki tingkat permodalan yang kuat dan berada dalam pengawasan yang jauh lebih ketat dibandingkan masa sebelum krisis 1998.

Oleh karena itu, jika kita hanya melihat organ-organ vital ekonomi, Indonesia saat ini tidak menunjukkan gejala sakit keras. Tubuh ekonominya masih relatif sehat.

Yang sedang mengalami tekanan bukanlah organ vital tersebut, melainkan psikologi pasar yang memandang masa depan dengan lebih hati-hati.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Indonesia sekarang ini bukan pasien yang sedang di ruang gawat darurat.

Indonesia lebih menyerupai seseorang yang hasil pemeriksaan kesehatannya masih baik, tetapi para investor mulai bertanya apakah gaya hidupnya cukup sehat untuk menjamin kondisi yang sama lima atau sepuluh tahun ke depan.

Jika fundamental ekonomi masih cukup baik, mengapa rupiah tetap melemah?

Penyebab pertama adalah persoalan kepercayaan kepada masa depan. Investor tidak hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi hari ini.

Mereka juga memperhatikan arah kebijakan pemerintah, disiplin fiskal, kualitas tata kelola, efektivitas reformasi ekonomi, dan kemampuan negara menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Keraguan domestik ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pembengkakan anggaran belanja negara, beban pembiayaan proyek populisme yang sangat masif, serta kepastian arah kebijakan fiskal di tengah masa transisi pemerintahan baru.

Ketika muncul keraguan terhadap salah satu aspek tersebut, pasar akan bereaksi bahkan sebelum masalah nyata benar-benar terjadi. Dalam dunia keuangan, persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada kenyataan.

Penyebab kedua adalah menguatnya dolar Amerika Serikat secara global. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, konflik bersenjata, perlambatan ekonomi, dan ketegangan perdagangan, investor internasional biasanya mencari aset yang dianggap paling aman.

Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah AS masih menjadi tempat perlindungan utama.

Akibatnya, bukan hanya rupiah yang mengalami tekanan. Banyak mata uang negara berkembang maupun negara maju mengalami pelemahan ketika arus modal global bergerak menuju aset-aset yang dianggap lebih aman.

Penyebab ketiga adalah struktur ekonomi Indonesia yang masih membutuhkan dolar dalam jumlah besar. Indonesia masih mengimpor minyak mentah, BBM, LPG, mesin industri, gandum, bahan baku farmasi, dan berbagai barang modal lainnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat

Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:40 WIB