Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Seorang ibu di Pasar Senen, Jakarta memegang kalkulator kecil di tangannya. Pagi itu ia baru menerima pesan dari anaknya yang sedang kuliah di Australia.
Tidak ada kabar buruk dari kampus. Tidak ada kenaikan uang kuliah. Tidak ada masalah akademik. Namun biaya semester berikutnya melonjak puluhan juta rupiah hanya dalam hitungan bulan.
Ia membuka aplikasi perbankan di telepon genggamnya. Angka yang muncul membuat dadanya sesak. Dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus Rp18.000.
Baca Juga: Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan
Bagi sebagian orang, itu hanya angka di layar. Bagi si ibu tadi, angka itu berarti tambahan biaya yang harus dicari.
Berarti tabungannya yang harus dikuras. Berarti rencana masa depan yang harus dihitung ulang.
Ketika itulah ingatannya melompat ke tahun 1998.
Ia teringat tetangga yang kehilangan pekerjaan. Ia teringat toko yang tutup. Ia teringat harga kebutuhan pokok yang berubah hampir setiap minggu. Ia teringat suasana ketika masa depan terasa seperti kabut yang menelan arah.
Baca Juga: Kendaraan Bermotor Mewah Harley Davidson, Ducati, dan Porsche di Rumah Silmy Karim Diangkut KPK
Namun Indonesia hari ini berbeda. Pusat perbelanjaan tetap ramai. Restoran tetap penuh. Bandara tetap sibuk. Perbankan berjalan normal. Tidak ada antrean panjang di depan bank. Tidak ada kepanikan massal seperti seperempat abad lalu.
Oleh karena itu, pertanyaan yang muncul bukan hanya mengapa dolar menjadi begitu mahal, melainkan mengapa hal itu terjadi ketika ekonomi Indonesia justru terlihat cukup sehat.
Inilah paradoks yang membingungkan banyak orang.
Bagaimana mungkin kurs rupiah melemah tajam sementara berbagai indikator ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan?