Jangan rampas hak gunung, kalau tak ingin gunung mengambil kembali haknya.
Jangan bunuh hutan, kalau tak ingin air mencari jalannya sendiri ke ruang-ruang hidup manusia.
Belajar dari para leluhur nusantara, mereka tidak hidup dengan semangat menundukkan bumi, melainkan dengan kesadaran menumpang di atasnya.
Ada rasa hormat kepada pohon, kepada mata air, kepada tanah, kepada musim, kepada suara angin, kepada arah hidup yang ditentukan oleh keselarasan.
Mereka paham, manusia bukan pusat semesta. Manusia hanyalah bagian kecil dari jejaring kehidupan yang lebih besar, yang tak boleh diputus seenaknya.
Yang terjadi dengan manusia modern sekarang ini, justru membanggakan pemutusan itu. Mereka membangun tanpa mendengar bisikan tanah. Ia menggali tanpa membaca penderitaan gunung. Ia menebang tanpa merasa berdosa kepada hujan.
Dan ia menyumbat sungai, lalu menamai banjir sebagai musibah, seolah-olah alam yang bersalah.
Oleh karena itu, ajakan untuk kembali mencontoh para leluhur dalam merawat alam menjadi relevan. Mari kita kembali kepada kesadaran bahwa bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan, tetapi titipan yang wajib dijaga.
Merawat alam bukan semata urusan teknis, melainkan urusan jiwa. Ia bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal kesadaran.
Alam sesungguhnya tidak pernah jahat. Ia hanya jujur. Ia akan memeluk manusia yang menjaganya, dan akan menunjukkan murkanya kepada manusia yang mengkhianatinya.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi