Dunia bukan untuk dirusak demi ambisi sesaat, tetapi untuk diharmonikan agar tetap layak dihuni oleh generasi yang belum lahir.
Baca Juga: Hantu Kurs Dolar
Dalam falsafah Jawa, hidup yang utama bukan hidup yang paling berkuasa, melainkan hidup yang tahu ukuran, tahu wates, tahu unggah-ungguh terhadap jagat raya.
Orang yang melampaui batas akan berhadapan bukan hanya dengan kutukan sosial, tetapi juga dengan kemurkaan semesta.
Lalu, apa yang terjadi hari ini, khususnya di bumi nusantara, ketika Pancasila sudah ada, ketika agama dan kita suci sudah tersedia?
Yang sedang kita saksikan bersama adalah bukit dibelah tanpa malu. Lereng dipaksa memikul bangunan yang tak seharusnya berdiri. Hutan digunduli atas nama investasi.
Sungai dicekik sampah, beton, dan serakah yang tak pernah kenyang.
Mata air dimatikan, lalu manusia heran mengapa banjir datang dan longsor menelan rumah-rumah.
Sedangkan kita sibuk menyalahkan hujan, padahal hujan hanya menjalankan tugasnya. Yang salah adalah manusia yang lupa diri, lupa akar, lupa daratan, lupa bahwa alam punya hukum sunyi yang tak bisa ditipu oleh pidato pembangunan.
Karuhun Sunda dan leluhur Jawa sama-sama mengajarkan bahwa semesta ini hidup dalam tatanan. Orang Sunda mengenal kehalusan rasa dalam membaca alam. Misalnya, kapan tanah harus diolah, kapan hutan harus dibiarkan, kapan air harus dijaga kesuciannya.
Orang Jawa mengenal harmoni antara jagad cilik dan jagad gede,—antara batin manusia dan alam raya. Bila batin manusia dipenuhi nafsu menguasai maka kerusakan akan merambat keluar. Tetapi bila batin manusia dipenuhi rasa hormat maka alam akan menjadi sahabat.
Sejatinya, bencana bukan hanya tentang curah hujan, patahan tanah, atau buruknya drainase. Bencana adalah bahasa alam ketika manusia terlalu lama tuli. Ia adalah teguran ketika manusia terlalu lama pongah.
Ia adalah jawaban semesta atas kesombongan peradaban yang merasa bisa membeli segalanya, kecuali keseimbangan.
Di sinilah letak kebesaran ajaran leluhur kita. Mereka mungkin tak bicara dengan istilah ekologi modern, perubahan iklim, atau mitigasi bencana seperti para akademisi hari ini.
Tetapi, mereka mewariskan inti kebijaksanaan yang jauh lebih purba dan lebih jernih. Contohnya, jangan sakiti alam, kalau tak ingin disakiti kehidupanmu.