Ada yang memuji tradisi ini sebagai warisan budaya Melayu Sambas yang luar biasa. Ada pula yang langsung mengetik tiga kata paling terkenal di dunia maya: "Itu sirik, wak."
Kelompok yang mengkritik biasanya menyoroti ritual Besiak, kerasukan roh, pemanggilan makhluk halus, dan penggunaan sesajen berupa makanan yang dulu ditempatkan di dalam Ajong.
Menurut mereka, unsur-unsur tersebut adalah bentuk permintaan kepada selain Allah sehingga masuk kategori sirik. Komentar seperti "zaman sekarang harus dibersihkan dari unsur gaib" hampir selalu muncul setiap tahun.
Namun ada satu hal yang menarik. Sebagian besar kritik keras itu biasanya terdengar di media sosial. Di kolom komentar mereka seperti singa. Tulisannya panjang, tegas, kadang seperti hendak merevisi sejarah Nusantara. Tetapi ketika warga setempat mengundang mereka datang langsung ke Arung Parak untuk berdiskusi, berdakwah, atau menjelaskan pandangan mereka kepada masyarakat, yang datang justru biasanya wisatawan, pedagang, fotografer, dan penonton acara.
Oleh karena itu, tuduhan sirik yang ramai di internet tidak banyak memengaruhi masyarakat Arung Parak, Tangaran, maupun Paloh. Mereka tetap melihat Ngantar Ajong sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Apalagi banyak warga mengakui bahwa pelaksanaan sekarang sudah berbeda dibanding masa lalu.
Versi lama yang penuh sesajen dan nuansa animisme memang pernah ada dan masih menjadi bagian sejarah tradisi ini. Namun dalam perkembangannya, banyak panitia telah memodifikasi pelaksanaan Ngantar Ajong. Unsur sesajen dikurangi bahkan dihilangkan di beberapa tempat, sementara aspek doa bersama, gotong royong, silaturahmi, dan festival budaya lebih ditonjolkan.
Pemerintah Kabupaten Sambas sendiri, termasuk Wakil Bupati, juga aktif mendukung pelestarian Ngantar Ajong sebagai kearifan lokal dan potensi pariwisata daerah. Sebab di balik perdebatan tentang syirik, ada fakta ekonomi yang sulit dibantah.
Ketika Ngantar Ajong digelar, ribuan orang datang dari berbagai daerah. Pantai dipenuhi pengunjung. Pedagang makanan dan minuman berjejer panjang seperti sedang membuka cabang pasar malam terbesar di pesisir. Area parkir penuh sesak. Penjual suvenir, mainan anak, kopi, es, hingga gorengan ikut menikmati berkah ekonomi dari acara tersebut.
Jika tradisi ini hilang sepenuhnya, dampaknya bukan hanya pada budaya. Desa juga berpotensi kehilangan momentum ekonomi tahunan yang selama ini menggerakkan usaha kecil masyarakat. Lapangan usaha musiman menyempit, kunjungan wisata berkurang, dan identitas budaya yang telah melekat selama ratusan tahun bisa perlahan memudar.
Ngantar Ajong juga bukan satu-satunya tradisi yang menuai kontroversi.
Di pantai utara Jawa ada Sedekah Laut atau Larungan yang menghanyutkan sesajen, kepala kerbau, dan hasil bumi ke laut.
Ada pula Ruwatan atau Rokatan yang dilaksanakan untuk membebaskan seseorang dari nasib buruk melalui wayang, sesaji, dan ritual tertentu.
Tradisi Sedekah Bumi, Bersih Desa, Tulak Bala di Aceh Barat dan beberapa daerah di Sumatra, sampai praktik sesajen di gunung, pohon keramat, atau makam juga sering mendapat kritik serupa.
Semua tradisi itu memiliki pola yang hampir sama, akar animisme dan Hindu-Buddha yang kemudian bercampur dengan Islam, lalu berhadapan dengan perdebatan panjang antara pelestarian budaya dan pemurnian akidah.
Sampai hari ini, Ngantar Ajong tetap berdiri di tengah dua gelombang besar tersebut.