Oleh Rosadi Jamani*
WartaPesona.com - Pedagang kaki lima (PKL) berkuasa 30 tahun, hampir tak tersentuh. Wali kota saja banyak takutnya.
Sekali Dedi Mulyadi alias Kang Dedi Mulyadi alias KDM turun, tahta PKL itu langsung ambruk. Kota Bandung menjadi bersih.
Selama rentang waktu itu, wali kota datang dan pergi seperti musim diskon di factory outlet. Ada yang membawa visi. Ada yang membawa misi. Ada yang membawa slogan yang panjangnya hampir setara pidato kenegaraan. Namun PKL tetap berdiri kukuh. Mereka seperti batu karang yang menertawakan ombak birokrasi.
Baca Juga: Kasus Hanania Travel Viral, Eks Partner Bongkar Dugaan Farhan Pakai Ide dan PT Tanpa Izin
Setiap pergantian pemimpin, warga berharap akan ada perubahan. Hasilnya? Trotoar tetap menjadi barang gaib. Secara teori ada. Secara fisik sulit ditemukan. Pejalan kaki harus turun ke jalan raya, bernegosiasi langsung dengan sepeda motor, angkot, mobil, dan takdir.
Lalu datanglah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM.
Kehadirannya seperti karakter terakhir dalam game yang baru dibuka setelah pemain gagal menyelesaikan misi selama 30 tahun.
Ketika banyak orang menganggap PKL Bandung sudah menyatu dengan tanah, udara, dan takdir kosmis alam semesta, KDM malah datang membawa alat berat.
Baca Juga: Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau
Sejak Mei 2026, penertiban digencarkan. Sasarannya bukan tempat sembarangan. Ada Jalan Cicadas, Jalan Eyckman-Sukajadi dekat RS Hasan Sadikin, kawasan Pasteur, dan beberapa titik lain yang selama ini terkenal sebagai wilayah dengan kepadatan lapak setara kepadatan penduduk planet baru.
Pembongkaran besar-besaran dilaksanakan 12 Mei dan 18 Mei 2026. Kios-kios liar yang telah bertahan selama 30 sampai 35 tahun di trotoar akhirnya roboh.
Yang lucu, ternyata bisa.
Kalimat "ternyata bisa" inilah yang mungkin membuat sebagian kepala daerah mendadak sulit tidur. Sebab selama ini rakyat dijejali istilah koordinasi, sinkronisasi, harmonisasi, kajian komprehensif, pendekatan multidimensi, dan berbagai mantra birokrasi lainnya. Ternyata setelah dihitung-hitung, salah satu unsur penting yang selama ini kurang adalah keberanian.