Dedi bisa dipromosikan, tetapi bisa juga “ditahan” sebagai gubernur kuat, vote getter partai, atau calon wakil presiden.
Meskipun, putusan MK Januari 2025 membuka peluang lebih banyak partai mengajukan Capres.
Lalu, apa yang seharusnya dikerjakan Dedi Mulyadi dari Sekarang? Pertama, membangun prestasi terukur di Jawa Barat. Approval rating 95,5 persen adalah modal awal, tetapi harus dijaga dengan hasil konkret.
Dedi perlu punya 5–7 program unggulan yang mudah dibaca rakyat nasional: pendidikan, desa, pertanian, lingkungan, UMKM, reformasi birokrasi, dan perlindungan warga miskin.
Kedua, memperkuat hubungan dengan elite Gerindra tanpa kehilangan karakter rakyatnya. Bila ia terlihat terlalu liar, elite partai bisa ragu. Bila terlalu patuh, rakyat bisa kecewa. Dedi harus memainkan keseimbangan: loyal kepada partai, tetapi tetap otentik sebagai pemimpin rakyat.
Ketiga, menyiapkan narasi ekonomi nasional. Sampai hari ini, kekuatan Dedi lebih tampak pada narasi budaya, rakyat kecil, ketertiban sosial, dan kepemimpinan lapangan.
Untuk menjadi Capres, ia harus punya tawaran ekonomi: mulai dari lapangan kerja, pangan, industri desa, energi, fiskal, dan investasi.
Terakhir, saya ingin mengatakan, bahwa jalan Dedi Mulyadi menuju 2029 nanti masih panjang dan terjal. Tetapi, jika berhasil dilewati, Dedi akan menjadi presiden pertama dari Tanah Pasundan.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat