Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Entah hilang atau dihilangkan. Entah sembunyi atau disembunyikan. Itulah sejarah Sunda yang masih misterius sampai sekarang. Tak banyak referensi yang bisa dibaca dari jejak salah satu unsur penting peradaban nusantara ini.
Di satu sisi, ada yang menyebut Sunda berusia lebih tua dari Jawa, tetapi di sisi lain, tak banyak data yang bisa mengungkap itu. Kecuali, sebuah buku kontroversial yang pernah ditulis Prof Arysio dos Santos, berjudul: The Lost Continent Finally Found.
Melalui buku itu, Prof Santos mengajukan sebuah tesis, bahwa Atlantis yang diceritakan Plato itu sebenarnya ada di kawasan Nusantara, atau Indonesia, yang kemudian dia sebut sebagai Sundaland.
Dalam buku itu, Prof Santos berusaha membuktikan bahwa atlantis yang digambarkan Plato itu sebenarnya Sundaland/Nusantara yang tenggelam pada akhir zaman es, yang membuat sebagian wilayah terendam. Dengan demikian, menurut Santos, memori tentang negeri besar dengan alam yang subur itu hilang lalu bertahan dalam bentuk mitos Atlantis.
Kalau tesis itu benar, bisa dibayangkan zaman es itu ada pada kurang lebih sekitar 24.000 - 17.000 tahun sebelum masehi. Ini usia yang sangat tua. Dan ini berarti, menggambarkan juga usia Sundaland.
Namun, kalau memakai istilah geologi yang lebih ketat, zaman es terakhir itu kira-kira 115.000 tahun lalu. Meskipun, tesis yang berusaha diyakinkan Pros Santos itu banyak ditolak banyak sejarawan. Salah satu alasannya, bahwa kisah Atlantis dalam Timaeus dan Critias karya Plato itu, lebih tepat dipahami sebagai mitos atau alegori filosofis.
Terlepas dari kontroversi itu, yang pasti, per hari ini, kita menghadapi problem sedikitnya referensi tentang sejarah Sunda. Berbeda dengan sejarah tentang Jawa. Ini mungkin salah satu yang ganjil dalam cara bangsa ini mengingat dirinya sendiri.
Di satu sisi, kita gemar berbicara tentang kebesaran Nusantara. Kita memuji keragaman budaya, mengulang slogan tentang kekayaan warisan leluhur, dan menjadikan identitas lokal sebagai kebanggaan nasional.
Tetapi di sisi lain, kita membiarkan sebagian warisan itu tetap tercecer, redup, dan nyaris tak terdengar dalam arus utama pengetahuan. Salah satu contoh paling nyata adalah sejarah Sunda itu.
Padahal, Sunda itu bukan nama kecil dalam sejarah Indonesia. Ia bukan serpihan pinggiran yang baru muncul kemarin sore. Sunda adalah salah satu simpul besar peradaban Nusantara, dengan jejak budaya, etika, bahasa, naskah, kerajaan, dan pandangan hidup yang memberi warna kuat bagi sejarah kepulauan ini.
Tetapi anehnya, ketika orang hendak mencari rujukan yang utuh, sistematis, dan populer mengenai sejarah Sunda, yang ditemukan justru kekosongan.
Sejarah Sunda sesungguhnya bukan hilang karena tak ada, melainkan hilang karena terlalu lama dibiarkan tercerai-berai. Ia kalah bukan oleh ketiadaan, melainkan oleh kelalaian. Dan kelalaian itu bukan hal kecil. Itu adalah kegagalan kebudayaan.
Sudah terlalu lama sejarah Sunda hidup dalam nasib yang serba tanggung. Ia dibicarakan dengan bangga, tetapi tidak cukup diteliti. Ia dipakai sebagai simbol identitas, tetapi tidak cukup disusun menjadi sistem pengetahuan.