opini

Kenapa Malam Jumat Dihubungkan Dengan Acara Bercocok Tanam di Kelambu?

Jumat, 15 Mei 2026 | 06:08 WIB
Ilustrasi. (kiriman Rosadi Jamani)

Media sosial tentu memperkeruh keadaan. Setiap Kamis malam timeline berubah menjadi festival kode dewasa. Ada meme kipas angin goyang. Ada suara ranjang berderit dijadikan backsound. Ada bapak-bapak selfie sambil caption, “Malam penuh ibadah.” Netizen langsung paham ibadah model apa.

Padahal kenyataannya sering tragis. Banyak pasangan yang awalnya penuh bara asmara, ujungnya ketiduran. Suami baru rebahan lima menit sudah mendengkur seperti truk gagal nanjak. Istri yang tadi pakai parfum akhirnya tidur sambil meluk guling. Kadang yang paling aktif malam Jumat justru nyamuk dan cicak di plafon.

Namun masyarakat tetap percaya malam Jumat punya aura berbeda. Lampu kamar terasa lebih redup. Kipas angin terdengar lebih romantis. Kelambu bergoyang pelan seperti tirai panggung drama kehidupan.

Di balik semua itu, dua manusia dewasa berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga sambil berharap kasur tidak berbunyi terlalu brutal.

Sebab kalau bunyi “kriettt… kriettt…” terlalu semangat, tetangga bisa ikut menyimak episode tanpa tiket.

Begitulah Indonesia. Negeri yang mampu mengubah hadis menjadi budaya populer. Negeri tempat sarung punya dua fungsi sekaligus. Ibadah dan persiapan operasi domestik. Negeri yang urusan ranjang bisa terasa seperti tradisi turun-temurun.***

*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat

Halaman:

Tags

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB