Ada baiknya kita mengenang jalan terjal dan penuh duri yang dialami tokoh pers seperti HOS Tjokro Aminoto, Burhanudin M Diah, Tirto Adhi Suryo yang senantiasa menyebarkan di tengah kesulitan mereka.
Kita harus yakin bahwa produk jurnalistik yang setia pada etika, menjunjung tinggi norma-norma, akurat dan tidak berprasangka, akan tetap menjadi acuan ketika jutaan informasi berlimpah hanya membuat bingung.
Tentu kita berharap masyarakat sipil semakin tergerak untuk menghidup-hidupi pers yang masih sekarat.
Berharap kepada pemerintah dan parlemen, ya boleh saja, tetapi anggap itu sebagai keajaiban yang bisa datang dan bisa juga tidak.
Banyak tantangan tetapi juga masih ada banyak harapan kalau semua yakin bahwa pers adalah betul-betul pilar sebuah negara demokrasi.
Rasa optimisme penting untuk memelihara kesehatan jiwa wartawan dan pekerja pers.
Saya ingat salah satu kalimat yang disampaikan katib ketika salat Jumat di kantor PBB di New York, Amerika di sela meliput turnamen grandslam Agustus 1991.
“Tanamlah pohon meski besok akan kiamat,” katanya mengutip habis Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan optimisme apapun yang akan terjadi.***
*Hendry Ch Bangun ialah wartawan senior dan pendiri Forum Wartawan Kebangsaan (FWK)
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Sektor Pariwisata Indonesia Bergeliat Tumbuh, Netizen Soroti Lemahnya Rupiah
Lelaki Amerika Pelaku Pencabulan Bersembunyi di Bungker di Depok Jawa Barat
Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara
Akan Buka-bukaan, Eks Petinggi BGN Sony Sonjaya Bersedia Menjadi Justice Collaborator
Suami Lahir 1984 dan Istri Lahir 1990, Punya 13 Anak