Paris tampak seperti sebuah peradaban yang sedang bercermin pada dirinya sendiri.
Lampu-lampu keemasan menyala di sepanjang Champs-Elysees. Sungai Seine mengalir tenang seolah tak peduli pada kegelisahan dunia.
Di kejauhan, Menara Eiffel berdiri seperti saksi bisu yang telah melihat lahirnya revolusi, jatuh bangunnya republik, dua perang dunia, dan pergantian generasi pemimpin yang datang membawa janji perubahan.
Di halaman Istana Elysee, pasukan kehormatan berdiri tegak dalam barisan yang nyaris tanpa gerak. Di dalam ruang jamuan, para tamu negara berbicara dalam berbagai bahasa, tetapi sesungguhnya membicarakan kegelisahan yang sama: dunia yang sedang berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia memahaminya.
Di tengah suasana itulah muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya: Apakah saya sedang menyaksikan dua pemimpin yang, dengan cara berbeda, sama-sama sedang berusaha mengubah posisi negaranya dalam sejarah?
Emmanuel Macron di Prancis. Prabowo Subianto di Indonesia.
Dunia hari ini sedang memasuki babak baru. Tiga dekade setelah Perang Dingin berakhir, banyak orang percaya dunia telah menemukan bentuk akhirnya.
Amerika Serikat menjadi pusat gravitasi global. Globalisasi berkembang. Perdagangan tumbuh. Teknologi menghubungkan manusia lintas batas.
Namun keyakinan itu kini retak.
Perang Ukraina mengguncang Eropa. Ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat mengguncang Timur Tengah. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok semakin tajam. Revolusi kecerdasan buatan mengubah peta ekonomi dunia.
Kita sedang memasuki zaman ketika banyak kepastian lama kehilangan pijakan.
Dalam konteks inilah hubungan Indonesia dan Prancis menjadi menarik. Bukan terutama karena nilai investasi atau kontrak bisnis yang ditandatangani. Melainkan karena kedua negara sedang berusaha menjawab pertanyaan yang sama: Bagaimana tetap berdaulat di dunia yang semakin terbelah?
Saya hadir dalam jamuan kenegaraan di Istana Elysee pada 28 Mei 2026 sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi.
Energi memang menjadi salah satu bidang penting kerja sama Indonesia dan Prancis.
Namun sebagai pembaca sejarah, perhatian saya tertuju pada sesuatu yang lebih besar daripada kerja sama bilateral.