Ungkapan tersebut sontak menarik perhatian warganet. Banyak yang menilai pernyataan Gimah bukan sekadar candaan atau ketidaktahuan,
melainkan luapan ketakutan warga yang bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman bencana alam.
Ide di Luar Nalar : Gunung Ditutup Semen
Masih dalam percakapan tersebut, Gimah juga menyampaikan gagasan yang terdengar di luar nalar, namun lahir dari rasa putus asa.
Ia menyarankan agar puncak Gunung Semeru ditutup menggunakan semen demi menghentikan keluarnya material panas.
“Kalau gunungnya bisa ditutup, coba tanya ibu-ibu yang lain, bisa tidak ya, kita tutup,” katanya.
Gimah bahkan membayangkan para prajurit TNI bergotong royong menutup sumber api di puncak gunung berapi aktif tersebut.
Namun, ia sendiri menyadari bahwa gagasan itu nyaris mustahil untuk dilakukan.
“Se-Indonesia dibawakan semen untuk menutup lubang api itu, pasti tidak dapat menutupi separuhnya,” ujarnya, sembari tersenyum pahit.
Pernyataan itu mencerminkan betapa besar ketakutan dan kelelahan psikologis warga yang terus-menerus hidup dalam kondisi darurat akibat aktivitas Gunung Semeru.
Baca Juga: Basarnas Konfirmasi Temuan Serpihan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Usai Laporan Pendaki
Rumah Tertutup Abu Vulkanik
Gimah kemudian menceritakan pengalaman pahitnya saat erupsi Gunung Semeru pada November 2025 lalu.
Abu vulkanik tebal menyelimuti rumahnya dan lingkungan sekitar, memaksa warga untuk bertahan dalam kondisi yang serba terbatas.
“Saya lahir dan besar di sini, jadi pahitnya erupsi saya tahu betul,” ungkapnya.
Ia mengatakan seluruh bagian rumahnya tertutup abu, mulai dari atap hingga perabotan di dalam rumah.