Aktivitas sehari-hari lumpuh, dan warga harus membersihkan abu secara berkala demi menjaga kesehatan.
“Rumah saya tertutup abu, semuanya kena,” sambung Gimah.
Meski demikian, ia bersyukur karena dirinya dan sang suami berhasil selamat dari bencana tersebut.
“Saya dan suami selamat, Alhamdulillah,” ucapnya.
Motor Kesayangan Jadi Penyelamat Nyawa
Di balik kisah pilu tersebut, Gimah juga membagikan cerita haru tentang motor kesayangannya yang menjadi alat penyelamat saat erupsi terjadi.
Ia menyebut, tanpa sepeda motor itu, dirinya mungkin tidak sempat menyelamatkan diri dari kejaran abu dan material vulkanik.
“Tapi ini motor saya tenggelam. Kalau tidak ada motor ini, mungkin saya ikut tenggelam, Pak,” katanya.
Gimah menuturkan, saat itu ia dan suaminya berusaha menyelamatkan diri dengan mengendarai motor.
Namun, kondisi medan yang semakin sulit memaksa mereka meninggalkan kendaraan tersebut demi keselamatan jiwa.
“Kalau saya waktu itu lari pakai kaki, mungkin saya juga tenggelam seperti motor ini,” ucapnya.
Ia menggambarkan betapa cepatnya material vulkanik bergerak saat erupsi terjadi.
“Soalnya waktu itu yang lari lebih cepat lavanya daripada saya,” tandas Gimah.
Baca Juga: Wacana Pilkada Dipilih DPRD Kembali Mencuat, Pengamat Nilai Berpotensi Gerus Kepercayaan Publik
Potret Trauma Warga Lereng Semeru
Kisah Gimah menjadi potret nyata trauma warga yang tinggal di kawasan rawan bencana Gunung Semeru.
Meski telah berkali-kali mengalami erupsi, banyak warga memilih bertahan karena keterikatan emosional, keterbatasan ekonomi, dan faktor mata pencaharian.
Artikel Terkait
Wacana Pilkada Dipilih DPRD Kembali Mencuat, Pengamat Nilai Berpotensi Gerus Kepercayaan Publik
Basarnas Konfirmasi Temuan Serpihan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Usai Laporan Pendaki
Pesawat ATR Indonesia Air Transport Rute Yogyakarta – Makassar Hilang Kontak di Kawasan Leang-leang Maros
Kasus Pengeroyokan Guru SMK Jambi Viral, Terungkap Aturan Panggilan ‘Prince’ hingga Pengakuan Siswa