“Rumahnya ada yang roboh, ada yang masih berlumpur. Lumpur mau dibuang ke mana juga kami bingung. Kami nggak tahu sampai kapan harus tinggal di sini,” imbuhnya.
Warga tersebut juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga ahli waris yang telah mengizinkan area makam digunakan sebagai tempat berteduh sementara.
“Terima kasih sebelumnya, Pak, atas izinnya,” sambungnya.
Baca Juga: Sekolah Rusak Diterjang Banjir, Bocah Agam Sumbar Tetap Simpan Harapan Bisa Belajar Kembali
Bertahan Sejak Desember, Menunggu Kepastian Hunian
Diketahui, sebagian warga Kampung Durian telah bertahan di area kuburan Tionghoa sejak Desember 2025.
Selama itu pula mereka menunggu kejelasan pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap dari pemerintah.
Selain keterbatasan tempat tinggal, warga juga mengeluhkan minimnya fasilitas dasar seperti sanitasi, penerangan, dan akses air bersih di lokasi pengungsian darurat tersebut.
Kondisi ini membuat kehidupan sehari-hari para pengungsi semakin berat, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Baca Juga: Aksi Kemanusiaan Togap MCI di Aceh Tamiang, Masak dan Berbagi untuk Korban Banjir
Ribuan Rumah Rusak di Aceh Tamiang
Sementara itu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang tergolong sangat parah.
Tercatat sekitar 37.888 unit rumah mengalami kerusakan dengan rincian :
-
15.174 unit rusak ringan
-
9.366 unit rusak sedang
-
8.509 unit rusak berat
-
4.839 unit rumah rusak berat hanyut (RBH)
Artikel Terkait
Haru di Posko Kesehatan, Seorang Ayah Berjuang Cari Obat demi Kesembuhan Anaknya
Aksi Kemanusiaan Togap MCI di Aceh Tamiang, Masak dan Berbagi untuk Korban Banjir
Sekolah Rusak Diterjang Banjir, Bocah Agam Sumbar Tetap Simpan Harapan Bisa Belajar Kembali
Kejar Bersih Rumah Jelang Ramadan, Warga Aceh Kerahkan Alat Berat dan Gotong Royong Angkut Lumpur Sisa Banjir