Ia menyebut momen tersebut menjadi penghapus rasa lelah setelah berjam-jam memasak dalam jumlah besar.
“Jujur capek, tapi capeknya hilang ketika kita lihat ibu-ibu bisa makan banyak, anak-anak bisa makan banyak,” kata Togap.
Ia menambahkan, selama ini banyak penyintas yang hanya mengandalkan mi instan sebagai makanan utama karena keterbatasan bantuan pangan.
“Ada yang bilang makannya mi instan terus. Jujur sedih,” ujarnya.
Menurut Togap, kehadirannya bersama tim di Aceh Tamiang bukan sekadar untuk memasak, tetapi juga memberi semangat dan perhatian bagi para korban yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Baca Juga: Melawan Arus Banjir Aceh, Seorang Ibu Nyaris Rela Berkorban agar Anaknya Selamat
Bandingkan dengan Kondisi Korban Banjir
Sambil menahan tangis, Togap membandingkan kondisi dirinya dan para relawan yang masih bisa kembali ke rumah dengan kondisi para korban banjir yang kehilangan tempat tinggal bahkan anggota keluarga.
“Capek, panas itu nggak berasa, nggak masalah, karena kami masih bisa pulang ke tempat yang enak, bertemu keluarga di rumah,” ucapnya.
“Sekarang mereka, jangankan untuk tinggal, untuk makan aja mereka susah. Aceh masih belum baik-baik saja, guys,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Ungkapan tersebut menjadi gambaran nyata kesenjangan antara kehidupan relawan dan para penyintas yang masih bertahan di pengungsian atau di sekitar rumah mereka yang rusak.
Optimistis Warga Bisa Bangkit
Di balik kondisi yang serba sulit, Togap mengaku tetap melihat optimisme dari warga Aceh Tamiang.
Senyum dan keceriaan para ibu dan anak-anak saat menerima makanan membuatnya yakin bahwa masyarakat setempat memiliki kekuatan untuk bangkit dari bencana.
“Aku percaya sih, dengan keceriaan mereka, mereka pasti akan bisa bangkit dengan cepat,” tuturnya.
Baca Juga: Akses Darat Terputus, Perjuangan Nakes Aceh Tengah Menyusuri Sungai Deras Demi Layani Warga
Data Kerusakan Aceh Tamiang
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak kerusakan di Aceh Tamiang tergolong sangat besar.
Artikel Terkait
Pascabanjir Aceh Timur, Warga Desa Pante Kera Masih Krisis Logistik dan Fasilitas Ibadah
Melawan Arus Banjir Aceh, Seorang Ibu Nyaris Rela Berkorban agar Anaknya Selamat
Terisolir Pascabencana, Warga Linge Aceh Tengah Tempuh Medan Sungai dan Tebing Demi Jual Durian ke Kota
Haru di Posko Kesehatan, Seorang Ayah Berjuang Cari Obat demi Kesembuhan Anaknya