“Terima kasih buat sembakonya,” ucapnya dalam video tersebut.
Ia juga menceritakan bahwa perjalanan yang ia tempuh bukanlah jarak yang dekat. Bagi sebagian orang, sembilan jam adalah waktu tempuh perjalanan jauh menggunakan kendaraan.
Namun baginya, itu adalah jarak yang harus ia lalui dengan berjalan kaki demi membawa pulang kebutuhan pokok untuk keluarganya.
“Ini kami sudah perjalanan pulang, semoga tidak hujan ya,” lanjutnya.
Baca Juga: Demi Bantuan Logistik, Warga Tapteng Harus Lewati Medan Hutan Licin dan Terjal
Letih Tak Menghentikan Langkah
Meski kelelahan tampak jelas di wajahnya, sang ibu tetap berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Ia menyadari bahwa perjalanan panjang masih harus ditempuh hingga tiba di rumah, dengan berbagai ancaman yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Hujan yang turun secara tiba-tiba dapat membuat jalan semakin licin dan berbahaya. Selain itu, risiko longsor susulan juga menjadi ancaman nyata di wilayah perbukitan pascabencana.
“Kami butuh tenaga, untuk perjalanan kami butuh waktu sembilan jam, semangat,” kata wanita itu, mencoba menguatkan diri.
Bagi perempuan tersebut, tenaga dan doa menjadi modal utama untuk bertahan di tengah situasi sulit.
Setiap langkah yang ia ayunkan adalah harapan agar keluarganya bisa makan dan bertahan hidup.
Baca Juga: Bencana Agam Sumbar Terkini : 192 Orang Meninggal, 72 Masih Hilang
Doa dan Harapan di Tengah Ancaman Bahaya
Di akhir rekaman perjalanannya, sang ibu menyampaikan permohonan tulus kepada siapa pun yang menyaksikan video tersebut.
Ia berharap perjalanan panjang yang masih harus ia tempuh dapat dilalui dengan selamat, tanpa hambatan maupun musibah tambahan.
“Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Bencana Agam Sumbar Terkini : 192 Orang Meninggal, 72 Masih Hilang
Demi Bantuan Logistik, Warga Tapteng Harus Lewati Medan Hutan Licin dan Terjal
Banjir Rusak Rumah Warga Desa Sekumur, Terpaksa Bertahan di Bawah Terpal
“Rumah Kami Habis,” Kisah Haru Dua Bocah Desa Sipange Pascabanjir