“Rumah kami ada dua sudah hancur,” lanjutnya dengan suara kecil.
Ucapan itu keluar tanpa tangisan histeris, namun justru meninggalkan keheningan yang menyayat hati.
Kepolosan anak-anak dalam menyampaikan kehilangan sering kali jauh lebih menggetarkan dibandingkan ungkapan kesedihan orang dewasa.
Kini, tidak ada lagi ruang untuk bermain, berlari, atau sekadar berlindung dari hujan.
Kenangan tentang rumah berwarna biru yang pernah mereka banggakan seolah ikut hanyut bersama derasnya aliran banjir yang melanda Kecamatan Kolang beberapa waktu lalu.
“Tidak ada lagi rumah kami yang berwarna biru,” pungkasnya, menutup cerita singkat yang menyisakan keharuan mendalam bagi siapa saja yang mendengarnya.
Baca Juga: Bencana Agam Sumbar Terkini : 192 Orang Meninggal, 72 Masih Hilang
Hidup di Tenda Pengungsian
Dalam tayangan video tersebut, kedua bocah tampak berada di sebuah tenda pengungsian darurat yang menjadi tempat tinggal sementara bagi keluarga mereka.
Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka harus beradaptasi dengan kondisi baru yang jauh dari kenyamanan rumah.
Lantai tenda yang dingin, ruang sempit, serta minimnya privasi menjadi keseharian baru yang harus mereka jalani.
Meski masih bisa tersenyum, ingatan mereka terus kembali pada rumah yang telah hilang.
Di balik cerita polos itu, tersimpan pertanyaan besar yang belum mampu mereka ucapkan : di mana mereka akan tinggal setelah masa tanggap darurat berakhir? Kapan mereka bisa kembali memiliki rumah yang layak untuk ditinggali?
Baca Juga: Kawasan Wisata Guci Tegal Diterjang Banjir Bandang, Fasilitas Pancuran Alami Terdampak
Anak-anak, Korban Paling Rentan
Kisah dua bocah di Desa Sipange ini menjadi pengingat bahwa anak-anak adalah kelompok paling rentan saat bencana melanda.
Selain kehilangan tempat tinggal, mereka juga berpotensi kehilangan rasa aman, stabilitas emosional, serta akses terhadap pendidikan dan ruang bermain.
Artikel Terkait
Kawasan Wisata Guci Tegal Diterjang Banjir Bandang, Fasilitas Pancuran Alami Terdampak
Bencana Agam Sumbar Terkini : 192 Orang Meninggal, 72 Masih Hilang
Demi Bantuan Logistik, Warga Tapteng Harus Lewati Medan Hutan Licin dan Terjal
Banjir Rusak Rumah Warga Desa Sekumur, Terpaksa Bertahan di Bawah Terpal