WartaPesona.com - Upaya mendorong ekonomi berkelanjutan melalui penerapan Circular dan Sharing Economy menjadi fokus utama dalam Webinar “Green Transformation: Strategies for Realizing Circular & Sharing Economy in Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Mercu Buana, Sabtu (25/10).
Kegiatan yang diikuti oleh 260 peserta dari berbagai kalangan—terdiri atas mahasiswa, akademisi, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)—ini menghadirkan empat narasumber lintas bidang dari akademisi Universitas Mercu Buana, yaitu Diky Firdaus (pemasaran berkelanjutan), Ir. Sulistyono, M.M (manajemen strategis), Junaedi, S.E., M.M (wirausaha hijau dan SDM), Lutfi Alhazami, S.E., M.M (keuangan berkelanjutan), dan diskusi dimoderatori oleh Dian Primanita Oktasari.
MC webinar Devi Aprianty mengungkapkan bahwa webinar ini menjadi wadah kolaborasi akademisi dan praktisi dalam merumuskan langkah konkret menuju ekonomi hijau yang tangguh, khususnya bagi sektor UMKM yang memegang peran penting dalam perekonomian nasional.
Baca Juga: Webinar Transformasi Hijau: Strategi Mewujudkan Circular & Sharing Economy di Indonesia
UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Hijau
Dalam pemaparannya, Diky Firdaus menekankan bahwa penerapan prinsip ekonomi sirkular pada sektor UMKM dapat mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan nilai jual produk.
Ia mencontohkan pelaku industri batik di Pekalongan dan Solo yang beralih menggunakan pewarna alami.
Meski biaya produksi naik hingga 30 persen, pendekatan tersebut membuka peluang ekspor dan memperluas akses pasar hijau.
“Pasar global kini menuntut produk yang ramah lingkungan. Pelaku UMKM perlu beradaptasi dengan tren ini agar tetap kompetitif,” ujar Diky Firdaus, dosen senior dari Universitas Mercu Buana.
Manajemen Strategis dan Ekonomi Sirkular di Dunia Konstruksi
Sementara itu, Ir. Sulistyono, M.M, Direktur Utama PT Cometindo Mitra Inti sekaligus dosen Universitas Mercu Buana, memaparkan pentingnya penerapan Circular Business Models (CBMs) dalam industri konstruksi.
Ia menyebut, sektor ini menyumbang sekitar 40 persen emisi karbon global dan mengonsumsi hampir separuh sumber daya alam dunia.
Menurutnya, teknologi seperti Building Information Modelling (BIM) dan material passport dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengurangi limbah konstruksi.
“Transformasi menuju ekonomi sirkular membutuhkan perubahan sistemik yang melibatkan inovasi teknologi, regulasi yang adaptif, dan komitmen manajemen puncak,” tegas Sulistyono.
Artikel Terkait
Indonesia Gaungkan Pesona dan Keberlanjutan di WTM London 2024 untuk Tarik Wisatawan Dunia
Industri TPT Indonesia Fokus Pada Keberlanjutan dan Ekspansi Pasar Global
Industri Hijau Maluku: Pilar Pertumbuhan Ekonomi dan Keberlanjutan
Desa Penglipuran Bali: Desa Terbersih di Dunia yang Menjadi Inspirasi Keberlanjutan Lingkungan
Presiden Prabowo Pimpin Parade Senja di Akmil Magelang: Simbol Persatuan dan Keberlanjutan Kepemimpinan
Presiden Prabowo Tiba di Malaysia, Siap Perkuat Peran Sentral Indonesia dalam KTT ASEAN ke-46 Bertema Inklusivitas dan Keberlanjutan