WartaPesona.com — Industri konstruksi dituntut untuk beradaptasi terhadap tantangan global terkait keberlanjutan dan efisiensi sumber daya.
Dalam webinar bertajuk “Transformasi Hijau: Strategi Mewujudkan Circular & Sharing Economy di Indonesia” yang dilaksanakan oleh Universitas Mercu Buana pada Sabtu, 25 Oktober 2025, pukul 14.00 – 16.00 WIB melalui platform Google Meet.
Pada sesi Manajemen Strategi Berkelanjutan, dengan tema “Advancing the Circular Economy in Construction through Circular Business Models”, dibawakan oleh Ir. Sulistyono, M.M, Direktur Utama PT Cometindo Mitra Inti sekaligus dosen Universitas Mercu Buana.
Sulistyono sebaga nara sumber menegaskan perlunya penerapan manajemen strategis berkelanjutan sebagai landasan transformasi menuju ekonomi sirkular di sektor konstruksi.
Menurut Sulistyono, manajemen strategis berkelanjutan merupakan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam proses perumusan hingga evaluasi strategi organisasi.
“Industri konstruksi merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbon global, mencapai sekitar 40 persen, serta mengonsumsi hampir 50 persen sumber daya alam dunia. Oleh karena itu, penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi keniscayaan,” ujarnya dihadapan peserta webinar dengan jumlah peserta lebih dari 280 orang.
Baca Juga: Webinar Transformasi Hijau: Strategi Mewujudkan Circular & Sharing Economy di Indonesia
Dari Model Linear ke Circular
Sulistyono menjelaskan bahwa paradigma ekonomi sirkular berfokus pada prinsip Reduce, Reuse, Recycle, Repair, dan Recover guna menutup siklus sumber daya.
Pendekatan ini mendorong pergeseran model bisnis dari sistem linear take–make–dispose menuju sistem sirkular yang efisien dan berkelanjutan.
Penerapan Circular Business Models (CBMs) di sektor konstruksi, lanjutnya, dapat dilakukan melalui beberapa strategi, antara lain memperpanjang umur produk (slowing resource loops), meningkatkan efisiensi material (narrowing loops), serta mendaur ulang dan mengembalikan material ke rantai pasok (closing loops).
Contohnya, penggunaan model Product-as-a-Service pada sistem penerangan atau HVAC berbasis sewa, serta resource recovery melalui pemanfaatan kembali baja, kayu, dan komponen pembongkaran.
“Implementasi CBMs bukan hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga memperkuat daya saing perusahaan, meningkatkan reputasi ramah lingkungan, dan membangun ketahanan bisnis dalam menghadapi dinamika global,” tutur Sulistyono.
Baca Juga: Poltekpar Lombok Cetak Generasi Hijau Pariwisata: Lulusan Siap Bawa Indonesia ke Kancah Dunia
Artikel Terkait
8 Plus 4 Program Bergulir hingga Akhir 2025, Pemerintah Bidik Industri Padat Karya hingga Pekerja Lepas
Menpar Widiyanti : Kemenpar Siapkan Dua Event Akbar 2025! SEABEF dan WITF Bakal Guncang Industri MICE Asia Tenggara
WITF 2025 Jadi Magnet Baru Pariwisata Nusantara, Kemenpar Genjot Gerakan BBWI Lewat Kolaborasi Industri
Menkeu Purbaya Siap Blacklist Importir Pakaian Bekas, DPR: Langkah Tegas Selamatkan Industri Tekstil Nasional