Kemuliaan Bulan Dzulhijjah dan Urgensi Memaknai Hakikat Kemabruran Haji

photo author
Anne Ardianti, Warta Pesona
- Jumat, 30 Mei 2025 | 20:20 WIB
Ilustrasi. (Foto: kemenag.go.id)
Ilustrasi. (Foto: kemenag.go.id)

WartaPesona.com- Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari bulan-bulan mulia dalam kalender hijriah yang memiliki nilai-nilai spiritual sangat tinggi dalam tradisi Islam. Dalam struktur tahun hijriah, Dzulhijjah menempati posisi ke-12 sekaligus menjadi penutup dari siklus tahunan umat Muslim.

Nilainya yang luhur bukan semata karena letaknya di akhir tahun, melainkan karena di dalamnya terkandung momentum-momentum sakral yang menjadi puncak dari ibadah dan penghambaan umat Islam kepada Allah SWT.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang paling dicintai oleh Allah untuk dilaksanakannya amal saleh:

Baca Juga: Amirul Haj Tiba di Jeddah, Serukan Fokus Jemaah pada Puncak Ibadah Haji

“Tidak ada hari dimana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari, 969)

Momentum ini diperkuat dengan berbagai peristiwa besar keagamaan yang terjadi pada hari-hari tersebut, seperti pelaksanaan wukuf di Arafah, puasa Arafah, Idul Adha, dan penyembelihan hewan kurban.

Bahkan, menurut para ulama, salah satu bentuk puncak penghambaan kepada Allah—yakni ibadah haji—juga terjadi pada fase ini.

Baca Juga: Menikmati Sate Kambing Tanpa Cemas: Strategi Sehat Cegah Kolesterol Tinggi

Maka, sepuluh hari pertama Dzulhijjah tidak hanya menjadi ruang ibadah yang sempit, melainkan jendela luas untuk memaknai kehidupan secara lebih spiritual dan mendalam.

Ibadah Haji sebagai Puncak Penghambaan
Ibadah haji, yang diwajibkan bagi umat Islam yang mampu, merupakan salah satu dari lima rukun Islam.

Namun lebih dari sekadar kewajiban, haji merupakan simbolisasi dari perjalanan ruhani menuju penyucian jiwa.

Baca Juga: Diplomasi Budaya di Candi Borobudur : Kementerian Pariwisata Dampingi Ibu Negara Prancis dalam Spouse Program

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menggambarkan haji sebagai “pengembaraan ruh menuju Allah” yang bukan hanya menyentuh aspek ritual, tetapi juga membentuk kepribadian yang penuh ketundukan dan kesadaran spiritual.

Al-Ghazali menekankan bahwa ibadah haji bukan sekadar serangkaian gerakan fisik menuju Baitullah, melainkan momentum transformasi etika dan akhlak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Anne Ardianti

Sumber: Kemenag

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X