Pra-Rakornas Kemenpar: Membangun Pariwisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Pentahelix

photo author
Haikal Abdillah, Warta Pesona
- Jumat, 6 Desember 2024 | 10:45 WIB
Peserta Pra-Rakornas Kemenpar 2024 tengah berdiskusi aktif bersama narasumber lintas sektor, membahas strategi kolaborasi untuk pariwisata berkelanjutan. (Kemenparekraf)
Peserta Pra-Rakornas Kemenpar 2024 tengah berdiskusi aktif bersama narasumber lintas sektor, membahas strategi kolaborasi untuk pariwisata berkelanjutan. (Kemenparekraf)

WartaPesona.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus melanjutkan diskusi intensif bersama unsur pentahelix pada Pra-Rakornas 2024.

Baca Juga: Fasilitas Olahraga untuk Semua Sekolah: Komitmen Pemerintah Menuju Generasi Sehat

Acara yang berlangsung di Pullman Central Park, Jakarta, Kamis (5/12/2024), ini fokus merumuskan strategi untuk memperkuat daya saing destinasi wisata di Indonesia serta membangun pariwisata berkelanjutan.

“Melalui sesi ini, kami mencari solusi bersama untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata, termasuk melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf, Fadjar Hutomo.

Pengurus Kura-Kura Bali, Suyoto, menyoroti tren tata kelola generative self-governance, yang mengedepankan kesadaran kolektif.

Baca Juga: Rakernas Igornas 2024: Guru Olahraga, Garda Depan Kuatkan Fondasi Olahraga Nasional

“Musyawarah dan gotong royong adalah kunci menciptakan produk wisata inovatif,” katanya.

Langkah ini juga diperkuat oleh Maulana Yusran dari Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), yang menekankan pentingnya regulasi untuk mendukung keberlanjutan pelaku usaha, pemerataan destinasi, serta industri penerbangan yang kompetitif.

Keberhasilan Desa Wisata Jatiluwih meraih predikat “Best Tourism Villages 2024” dari UNWTO menjadi inspirasi pengembangan desa wisata lain.

Baca Juga: World Muslim Scout Jamboree 2025: Momen Persatuan Pramuka Muslim Dunia

John Ketut Purna, pengelola desa, mengungkapkan bahwa filosofi Tri Hita Karana menjadi fondasi kesuksesan Jatiluwih.

“Harmoni dengan Tuhan, manusia, dan alam adalah kunci. Desa bisa maju tanpa meninggalkan tradisi,” ujarnya.

CEO Waste4Change, Mohammad Bijaksana, menekankan urgensi pengelolaan sampah yang lebih baik untuk mendukung pariwisata.

Baca Juga: Dukung Jetski Indonesia, Menpora Dito Siapkan Atlet ke Panggung Dunia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Haikal Abdillah

Sumber: Kemenparekraf

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X