WartaPesona.com - Pariwisata alternatif kini menjadi tren global seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman yang lebih autentik dan berkelanjutan. Salah satu bentuk pariwisata alternatif yang semakin diminati adalah desa wisata, yang mengedepankan interaksi harmonis antara alam, budaya, dan masyarakat lokal.
Ddesa wisata atau rural tourism tengah berkembang pesat di berbagai negara. Konsep ini menawarkan pengalaman liburan yang unik, berbeda dari wisata massal, sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Pengembangan desa wisata di Indonesia merupakan bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan, pemerintah menargetkan terbentuknya 244 desa wisata mandiri yang tersertifikasi pada 2024 sebagai upaya mendorong kebangkitan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk mewujudkan target tersebut, Kemenpar menjalin kolaborasi lintas kementerian dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Kemendes PDTT berfokus pada penguatan infrastruktur desa wisata, sementara Kemenpar mengembangkan sumber daya manusia, sarana prasarana pariwisata, serta sektor ekonomi kreatif di desa.
Desa wisata dinilai memiliki potensi besar dalam menyumbang pendapatan negara dan menciptakan lapangan kerja. Di Eropa, sekitar 15 persen kapasitas amenitas pariwisata berada di desa wisata berkelanjutan. Di Inggris, sektor desa wisata bahkan menyumbang sekitar 12 persen lapangan kerja nasional. Jika pola ini dapat diadaptasi di Indonesia, desa wisata berpeluang menjadi solusi pengurangan pengangguran.
Dengan lebih dari 74 ribu desa yang tersebar di seluruh nusantara, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan desa wisata berbasis kearifan lokal. Keunikan budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat desa menjadi nilai tambah yang dicari wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Dalam mempercepat pengembangan desa wisata, Kemenpar juga mengoptimalkan promosi digital. Salah satunya melalui penyelenggaraan tur virtual desa wisata yang menggandeng pelaku industri kreatif. Program tur virtual bertajuk Surga yang Tersembunyi menampilkan pesona desa wisata dari berbagai pulau dan berhasil menjangkau audiens yang lebih luas.
Pemerintah menegaskan bahwa masyarakat desa bukan sekadar objek, melainkan subjek utama pembangunan desa wisata. Pendekatan community based tourism dengan kolaborasi pentahelix menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem desa wisata yang berkelanjutan dan mandiri.
Peran komunitas terbukti sangat signifikan dalam mendukung pengembangan desa wisata. Sejumlah komunitas seperti Generasi Pesona Indonesia (GenPI), Generasi Wonderful Indonesia (GenWI), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta komunitas kreatif lainnya aktif terlibat dalam promosi, pendampingan, dan penguatan kapasitas desa wisata.
GenPI, yang mayoritas anggotanya adalah generasi muda kreatif, berkontribusi besar melalui promosi digital di media sosial dan penulisan pengalaman wisata. Dengan jumlah anggota lebih dari 18 ribu orang, GenPI menjadi kekuatan promosi yang efektif untuk menarik kunjungan ke desa wisata.
Sementara itu, GenWI berperan mempromosikan desa wisata Indonesia ke tingkat internasional melalui jejaring diaspora. Di tingkat lokal, Pokdarwis menjadi ujung tombak pengelolaan destinasi dan penggerak partisipasi masyarakat desa.
Kolaborasi antarkomunitas, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat terus diperkuat. Dengan ekosistem berbasis komunitas yang solid, desa wisata di Indonesia diyakini mampu berkembang menjadi destinasi mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.***