Perkembangan baru ini membayangi perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan.
Namun sejak berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, konflik daerah ini berkembang menjadi konflik nasional.
Sumpah Pemuda lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, sebagai akibat dari derasnya perjuangan nasional tersebut.
- Pendidikan Zaman Penjajahan Jepang
Pendidikan di Indonesia berubah setelah Belanda ditaklukkan oleh Jepang.
Dualisme pendidikan dihapuskan pada zaman Belanda, dan semua orang mendapat pendidikan yang sama. Kabar buruknya, Jepang sangat rakus dan ingin menyedot kekayaan Indonesia pada saat itu.
Penggunaan bahasa Indonesia di bidang pendidikan, pekerjaan, dan bidang lainnya wajib dilakukan pada masa itu.
Tanpa disadari, Jepang telah menciptakan peluang yang sangat baik bagi warga sipil Indonesia untuk bersatu mendukung kemerdekaan.
Baca Juga: Jelajahi Destinasi Wisata Sekaligus Merasakan Sejarah di Titik Nol Kilometer Indonesia
- Pendidikan Setelah Kemerdekaan
Ki Hajar Dewantara kemudian diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran dari tanggal 19 Agustus sampai dengan 14 November 1945, kemudian digantikan oleh Mr.Dr.T.G.S.G.
Dari 14 November 1945 hingga 12 Maret 1946, dia menjabat sebagai Yang Mulia.
Posisi ini segera diisi oleh Mohammad Syafei yang menjabat dari 12 Maret hingga 2 Oktober 1946.
Antara tahun 1945 dan 1969, tujuan pendidikan nasional Indonesia berubah sebanyak lima kali.
Menurut Proklamasi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP&K), Bapak Kelvin, tanggal 1 Maret 1946, tujuan pendidikan nasional pada masa awal kemerdekaan adalah untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme.
Hal ini wajar mengingat bangsa Indonesia baru saja lepas dari masa penjajahan yang panjang, dan ada isyarat bahwa Belanda ingin kembali menguasai Indonesia.