Baca Juga: Wanita Guru di Tanjungbalai Sumatra Utara Diamuk Massa, Begini Peristiwanya
Ia lulusan SMA Taruna Nusantara dan National Defense Academy of Japan itu pernah menjadi asisten pribadi Prabowo sekitar lima tahun, 2009-2014. Ia kemudian meniti karier bisnis dan politik, menjadi Wasekjen Gerindra, Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah, lalu Wakil Menteri Pertanian. Dari kursi itulah ia dipindahkan Prabowo menjadi Kepala BGN.
Sudaryono juga bukan orang miskin yang tiba-tiba disuruh menjaga gudang beras. Laporan kekayaannya menunjukkan aset sekitar Rp91,76 miliar dengan utang sekitar Rp60,37 miliar, sehingga kekayaan bersihnya kira-kira Rp31,4 miliar.
Angka kekayaan tentu tidak membuktikan kompetensi ataupun ketidakkompetenan. Ia hanya melengkapi profil seorang pengusaha, politikus dan bekas orang dekat Prabowo yang kini dipercaya menjaga salah satu keran anggaran terbesar pemerintah.
Pola itu mengingatkan saya kepada seorang pemikir dari Tunisia yang meninggal lebih enam abad lalu: Ibnu Khaldun. Dalam kitabnya al-Muqaddimah yang saya terjemahkan tahun 1980-an, Ibnu Khaldun memakai konsep ashabiyah. Kata ini sering diterjemahkan sebagai solidaritas kelompok, tetapi pengertiannya lebih kaya.
Ashabiyah adalah tenaga perekat yang membuat sekelompok manusia merasa “kita”: saling mengenal, saling percaya, membela, berkorban dan bertahan bersama. Dengan energi seperti itulah, menurut Khaldun, sebuah kelompok memperoleh kekuatan politik dan akhirnya membangun mulk, kekuasaan.
Membaca Prabowo dengan kacamata ini lebih menarik daripada sekadar menuduhnya senang mengangkat teman.
Perjalanan menuju Istana bagi Prabowo memang panjang. Ia mengalami kekalahan politik, membangun Gerindra, berkali-kali mengikuti pemilu, mengembangkan jaringan Hambalang.
Ia pun merawat hubungan dengan bekas tentara, kader partai, mantan ajudan, asisten pribadi dan orang-orang yang menyertainya ketika kursi kepresidenan masih terlihat seperti gunung di kejauhan. Orang-orang yang bertahan dalam perjalanan panjang seperti itu secara alamiah membentuk ashabiyah.
Dalam politik, itu bahkan aset. Seorang presiden tidak mungkin menjalankan pemerintahan hanya dengan manusia-manusia yang CV-nya bagus tetapi tak pernah ia kenal. Ia membutuhkan orang yang memahami pikirannya sebelum kalimat selesai diucapkan; orang yang tidak kabur ketika kapal diterjang ombak; orang yang dipercaya tidak menusuk ketika punggung sedang menghadap kepadanya.
Dalam bahasa manajemen modern, itu kepercayaan (trust). Dalam bahasa Ibnu Khaldun enam abad lalu, ada sesuatu yang lebih dalam: ashabiyah.
Karena itu masalahnya bukan bahwa Prabowo mempercayai orang dekat. Masalah baru muncul ketika "kepercayaan kepada orang menggantikan kepercayaan kepada sistem".
Di sinilah BGN memberi pelajaran yang mahal. Dadan berakhir sebagai tersangka. Nanik datang membawa loyalitas dan kehati-hatian yang begitu tinggi sampai tanda tangan anggaran membuatnya takut, lalu mundur karena kesehatan. Kini Sudaryono datang membawa modal kepercayaan yang bahkan lebih panjang: bekas asisten pribadi sang Presiden.
Tetapi Rp268 triliun tidak mengenal persahabatan. Puluhan juta penerima MBG tidak bisa dilayani dengan loyalitas.
Ribuan dapur tidak dapat diaudit dengan kedekatan. Pengadaan telur, ayam, susu, sayur, kendaraan, peralatan dapur, pembayaran mitra sampai keamanan pangan memerlukan keahlian yang sangat berbeda dari kemampuan memenangkan pemilu atau menjaga kesetiaan politik.