Bedanya di lapangan, jika Amar beroperasi di lini depan untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan, Said diproyeksikan untuk menjadi benteng atau pengatur ritme permainan.
Kehadiran Said menegaskan bahwa komitmen dua pesepakbola muda berdarah Indonesia ini untuk merajut prestasi bersama Merah Putih bukanlah mimpi di siang bolong, melainkan sebuah dedikasi jangka panjang yang butuh kesabaran dan dukungan seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.
Kekalahan dari Australia di Medan mungkin terasa menyakitkan bagi pecinta sepak bola tanah air karena terjadi menjelang akhir pertandingan.
Namun, jika kekalahan itu adalah harga yang harus dibayar untuk melihat kematangan seorang Amar Brkic membongkar pertahanan Australia--salah satu raksasa sepak bola di Asia-Oseania--maka masa depan sepak bola Indonesia jelas ada di tangan--atau di kaki-- yang tepat.
Selamat ulang tahun ke-19, Amar.
Kepakkan sayap garudamu lebih keras lagi setelah ini. Gaya permainanmu sebagai winger kreatif dan versatile (serba bisa) seperti Ragnar “Wak Haji” Oratmangoen, membuat peluangmu masuk Timnas senior terbuka lebar.
Yakinlah!***
*Akmal Nasery Basral ialah fans Timnas Indonesia, sosiolog, prosaic penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Seniman/Budayawan Nasional
Tanggapan, masukan, dan koreksi atas tulisan ini bisa dikirimkan melalui email: akmal.n.basral@gmail.com
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi