Baca Juga: Dewan Pembina Yayasan Trisakti Pemenang Gugatan di Pengadilan Menunggu Eksekusi
Sekarang ini, ia meniti karier bersama SV Darmstadt 98 U19, setelah sebelumnya sempat menimba ilmu dan menunjukkan bakat besarnya di akademi klub Bundesliga, TSG 1899 Hoffenheim, serta Kickers Offenbach.
Di kompetisi junior Jerman, ia terbiasa menghadapi intensitas dan tekanan tinggi, sebuah modal yang membuatnya bisa begitu tenang saat dikepung pemain-pemain Australia yang posturnya menjulang tinggi.
Namun, daya tarik Amar bukan hanya pada gocekan bolanya di lapangan hijau, melainkan juga pada latar belakangnya yang kosmopolitan.
Ia adalah perpaduan harmonis dari dua kultur dunia yang berbeda: Eropa dan Asia.
Ayahnya, Dr. Moamer Brkic, adalah seorang dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi (Orthopädie und Unfallchirurgie) berdarah Serbia.
Ibunya, Dr. Diyah Nahdiyati, Sp.A, MHBA, adalah seorang dokter spesialis anak (kinderheilkunde) dari Kebumen, Jawa Tengah.
Dr. Diyah juga aktif dalam kegiatan sosial sebagai Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya (dalam legalitas hukum Jerman terdaftar sebagai Wakil Ketua/Ketua di Muhammadiyah Deutschland e.V. yang berkedudukan di Frankfurt am Main).
Kombinasi latar belakang orang tua yang profesional medis tingkat tinggi ini menjelaskan mengapa Amar tumbuh menjadi atlet yang memiliki disiplin mental baja, nutrisi yang terjaga, dan pemahaman sportivitas yang matang sejak dini.
Melihat penampilan Amar semalam, rasanya tidak terlalu muluk jika fans sepak bola Indonesia mulai memprediksi tentang kapan Amar akan berseragam Timnas Senior. Sebab, jalan menuju ke sana sudah tidak lagi utopis, melainkan semakin realistis.
Kita baru saja menyaksikan Matthew Ryan Sitorus Baker, bek serba bisa yang baru berusia 17 tahun—berdarah blasteran ayah Australia dan ibu Batak secara mengejutkan diberi kepercayaan penuh oleh pelatih kepala John Herdman untuk menajalani debutnya di Timnas Senior Indonesia dalam laga FIFA Match Day melawan Oman pekan lalu.
Di bawah arahan John Herdman yang dikenal jeli melihat potensi pemain muda berbakat tanpa pandang bulu, peluang Amar terbuka lebar.
Jika Matt Baker yang berusia lebih muda saja mampu menembus sekat senioritas berkat kematangan bermainnya, Amar Brkic—dengan visi bermain standar Eropa dan akurasi crossing yang mengagumkan—hanya tinggal menunggu waktu untuk dipanggil Herdman ke skuad utama Garuda.
Menariknya, cerita keluarga Brkic untuk sepak bola Indonesia tidak berhenti pada diri Amar.
Di masa depan, Indonesia mungkin akan menyaksikan "Brkic Bersaudara" menggalang kekuatan di atas lapangan hijau membela Merah Putih di panggung sepak bola dunia karena adik Amar yang bernama Said Ahmed Brkic, mengikuti jejak kakaknya. Said terpilih masuk skuad Timnas Indonesia U15.