opini

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB
(Akmal Nasery Basral)

Oleh Akmal Nasery Basral*

WartaPesona.com - Kalah di ujung pertandingan selalu menyisakan aftertaste lebih pahit dari secangkir kopi hitam tanpa gula yang menyepak telak pangkal tenggorokan.

Untungnya di dalam sepak bola, meneroka potensi pemain muda--seperti Amar Rayhan Brkic--jauh lebih penting dibanding meratapi kekalahan.

Itulah yang tersaji di Stadion Utama Sumatra Utara, Medan, Kamis 11 Juni 2026 malam, ketika Timnas Indonesia U19 harus kalah 0-1 melawan Australia.

Baca Juga: Pemain Timnas Indonesia Justin Hubner Jalani Prosesi Siraman Menjelang Menikah Dengan Jennifer Coppen

Bagi Amar, malam itu sebenarnya adalah momen istimewa. Kamis, 11 Juni, adalah hari ulang tahunnya yang ke-19.

Begitu masuk sebagai pemain pengganti sejak awal babak kedua, Amar langsung menjadi akselerator mengubah dinamika permainan Indonesia yang sempat buntu di babak pertama.

Amar yang tumbuh dalam kerasnya sistem pembinaan usia muda di Jerman ini menunjukkan apa yang selama ini dirindukan dari seorang winger: visi, ketenangan, dan akurasi umpan-umpan panjang.

Dua umpan silangnya di kotak penalti secara teoritis bisa menjadi gol yang bisa membuat skor akhir menjadi 2-1 untuk kemenangan Indonesia.

Baca Juga: Berdiskusi Tentang Peran Strategis dan Masa Depan Media Dengan Pengusaha Muda Nofel Saleh Hilabi

Sayangnya, umpan matang Amar di menit ke-66 kepada penyerang Arkhan Kaka yang berada persis di depan gawang gagal menjadi gol.

Begitu juga dengan umpan terukurnya di menit ke-80 kepada Dimas Adi Prasetyo yang ada di dekat gawang Australia gagal berbuah gol.

Seandainya, ya seandainya, dua assist Amar berhasil dipungkasi Arkhan dan Dimas dengan sempurna, betapa berartinya Kamis malam itu. Timnas U-19 Indonesia melaju ke partai final, dan Amar mendapat “kado ulang tahun” yang akan menjadi kenangan indah seumur hidupnya.

Daya jelajah dan kedewasaan bermain Amar bukan tercipta instan. Lahir dan besar di Frankfurt, Jerman, Amar ditempa oleh kultur sepak bola yang menuntut kedisiplinan taktik tinggi dan fisik yang prima.

Halaman:

Tags

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB