opini

Tradisi Ngantar Ajong di Kabupaten Sambas Yang Dicap Sirik, Anehnya Makin Ramai

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:24 WIB
Foto Rosadi Jamani

Oleh Rosadi Jamani*

WartaPesona.com - Tradisi Ngantar Ajong sudah ada sejak saya kecil dulu. Waktu SMP, ada guru melarang menonton tradisi itu, karena dianggap sirik. Saya pun tak berani menonton.

Lama saya meninggalkan kampung, tradisi itu masih ada. Ternyata, debat tentang sirik itu justru makin panas sekarang ini.

Pro kontra tak terhindarkan membuat seminggu ini warga Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat pun panas.

Di Desa Arung Parak, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, ada sebuah tradisi bernama Ngantar Ajong atau Antar Ajong.

Tradisi ini sudah hidup turun-temurun di tengah masyarakat Melayu Sambas dan sampai hari ini masih terus dilaksanakan. Fungsinya bukan sekadar acara kumpul-kumpul atau festival tahunan.

Bagi masyarakat setempat, Ngantar Ajong adalah ritual tolak bala sekaligus doa untuk musim tanam padi agar terhindar dari hama, penyakit tanaman, dan berbagai gangguan yang dipercaya dapat merusak hasil panen.

Simbol utama tradisi ini adalah Ajong, sebuah perahu kecil yang biasanya dicat kuning. Perahu itu bukan kapal pesiar miliarder, bukan juga kapal perang.

Namun anehnya, benda kecil ini mampu menghasilkan perdebatan yang lebih panjang daripada antrean minyak goreng zaman langka.

Proses Ngantar Ajong memiliki beberapa tahapan penting. Pertama adalah musyawarah warga dan pembuatan Ajong. Setelah itu masuk ke tahap inti yang disebut Besiak. Ritual ini biasanya dikerjakan malam hari.

Dalam tradisi lama, pawang atau dukun mengalami kerasukan roh, kemudian memanggil dan "menangkap" roh-roh jahat untuk dimasukkan ke dalam Ajong. Acara tersebut diiringi tarian Raddad, tabuhan gendang, gong, rebana, serta pembacaan mantra-mantra.

Setelah semua tahapan selesai, Ajong dihanyutkan ke laut melalui Pantai Terabitan atau Muara Indah Arung Parak. Filosofinya sederhana. Segala kesialan, roh jahat, gangguan, dan hama diharapkan ikut berlayar jauh meninggalkan kampung sehingga musim tanam berikutnya berjalan lancar dan hasil panen melimpah.

Sampai di sini biasanya warga santai saja. Yang mulai ribut justru netizen.

Setiap musim Ngantar Ajong tiba, Facebook, Instagram, TikTok, grup WhatsApp, dan grup-grup lokal Sambas berubah menjadi arena pertandingan tinju komentar.

Halaman:

Tags

Terkini

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat

Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:40 WIB

Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious

Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:04 WIB