(2 Juni 1897 – 2 Juni 2026)
Oleh Zul Arifin Tan*
WartaPesona.com - Romantisme sejarah masa lalu adalah bagian dari hitam-putih perjalanan bangsa. Di dalamnya ada keberhasilan yang patut dikenang, sekaligus pelajaran berharga dari berbagai kesalahan dan kegagalan.
Oleh karena itu, sejarah tidak seharusnya dipahami sebagai ruang untuk memuja atau menyesali masa lalu, melainkan sebagai sarana belajar agar bangsa ini mampu melangkah lebih bijaksana ke masa depan.
Salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari sejarah adalah pentingnya keberanian berpikir.
Baca Juga: Kontroversi Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Luar Negeri dan Payung Diplomasi Kemandirian
Kemerdekaan sejati tidak hanya berkaitan dengan terbebasnya suatu bangsa dari penjajahan, tetapi juga kemampuan rakyatnya untuk berpikir secara merdeka, kritis, dan bertanggung jawab.
Dalam konteks itulah Tan Malaka tetap menjadi sosok yang relevan untuk dipelajari.
Sebagai tokoh pergerakan dan pemikir bangsa, ia meninggalkan warisan berupa keberanian intelektual, keteguhan sikap, serta keyakinan bahwa rakyat harus menjadi subjek utama dalam menentukan masa depannya sendiri.
Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai pemikiran dan perjalanan politiknya, Tan Malaka menunjukkan bahwa gagasan memiliki kekuatan untuk melampaui zamannya.
Baca Juga: Legenda Barcelona Andres Iniesta Melatih Klub Uni Emirat Arab Gulf United
Banyak pandangannya mengenai pendidikan, kesadaran rakyat, organisasi, dan kemerdekaan nasional lahir jauh sebelum Indonesia mencapai kemerdekaan.
Mengenang hari lahir Tan Malaka bukanlah tentang mengagungkan seorang tokoh, melainkan tentang merawat tradisi berpikir yang kritis dan terbuka. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan sejarahnya, tetapi bangsa yang mampu belajar dari sejarah untuk menjawab tantangan zamannya.
Pada peringatan 129 tahun kelahirannya, Tan Malaka layak dikenang sebagai salah satu pemikir yang mengajarkan pentingnya keberanian berpikir, keberpihakan kepada rakyat, dan keyakinan bahwa masa depan dapat diubah oleh mereka yang berani memperjuangkannya.