Dan perhatian dunia tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari kehadiran, percakapan, dan diplomasi yang terus dipelihara.
Kunci keberlanjutan diplomasi ini berada pada transparansi anggaran dan akuntabilitas realisasi komitmen di dalam negeri, agar kemandirian tidak sekadar menjadi narasi elite, melainkan kesejahteraan nyata yang dirasakan rakyat.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kunjungan luar negeri Presiden Prabowo bukanlah tentang berapa kali pesawat kepresidenan lepas landas.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah Indonesia sedang membangun fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi abad yang penuh ketidakpastian?
Jika diplomasi mampu memperluas pilihan, memperkuat posisi tawar, membuka peluang ekonomi, dan menjaga martabat bangsa, maka diplomasi itu telah menjalankan fungsi tertingginya: menjaga kemandirian Indonesia di tengah dunia yang terus berubah.
Bangsa yang merdeka bukanlah bangsa yang berjalan sendirian, melainkan bangsa yang mampu bersahabat dengan semua pihak tanpa pernah menyerahkan kemudi masa depannya kepada siapa pun.
Di abad ketika perang dapat menaikkan harga beras di dapur rakyat Indonesia, diplomasi bukan lagi pilihan. Ia adalah pagar tak terlihat yang melindungi masa depan sebuah bangsa.***
Referensi
The Tragedy of Great Power Politics, John J. Mearsheimer, W.W. Norton & Company 2001
Paradoks Indonesia dan Solusinya, Prabowo Subianto, Pustaka Cakra 2022
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi