opini

Kontroversi Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Luar Negeri dan Payung Diplomasi Kemandirian

Selasa, 2 Juni 2026 | 08:34 WIB

Gagasan yang paling relevan adalah pentingnya negara memiliki posisi tawar yang kuat dalam pergaulan internasional. Kemandirian bukan berarti berjalan sendiri, melainkan mampu bekerja sama tanpa kehilangan kendali atas masa depan bangsa.

Tentu kritik terhadap frekuensi kunjungan luar negeri tetap layak dihargai. Demokrasi membutuhkan pengawasan. Publik berhak menuntut transparansi biaya, efektivitas perjalanan, dan hasil yang terukur.

Ada yang mengkritik diplomasi Prabowo sebagai “visibility without vision,” aktif secara visual, tetapi minim arah strategis. Atau menyebutnya diplomasi FOMO, hadir di mana-mana tanpa tindak lanjut.

Namun kritik yang baik juga harus bersedia menilai hasil secara objektif.

Jika diplomasi menghasilkan akses pasar baru, investasi yang lebih besar, posisi internasional yang lebih kuat, perlindungan warga negara, dan dukungan bagi kepentingan nasional maka yang harus dievaluasi bukan jumlah perjalanannya semata, melainkan rasio antara biaya dan manfaat yang dihasilkan.

Lee Kuan Yew pernah berkata bahwa negara kecil bertahan karena diplomasi yang aktif.

Indonesia bukan negara kecil, tetapi dunia kini jauh lebih kompleks dibanding era sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, biaya diplomasi yang efektif sering kali jauh lebih murah dibanding biaya yang harus dibayar ketika sebuah negara kehilangan akses pasar, investasi, atau dukungan internasional.

Dalam politik luar negeri, hasil sering kali lebih penting daripada jarak.

Saya merasakan sendiri dampak diplomasi itu ketika sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Paris pada Mei 2026.

Saya menulis ini dengan kesadaran ganda: dekat dengan peristiwa, namun berusaha menjaga jarak analitis yang jujur.

Pada momentum kunjungan kenegaraan Prabowo ke Prancis (27–28 Mei 2026), Opinion Internationale menerbitkan edisi khusus “Issue Indonesia in Paris”.

Indonesia disebut sebagai naga Asia terakhir yang bangkit. Ini muncul dari pernyataan Pierre-Marie Relecom, presiden Relecom & Partners sekaligus wakil presiden Kamar Dagang Prancis–Indonesia.

Ia dikutip sebagai judul wawancara: “Indonesia is Asia’s last great dragon awakening, and it is extending its hand to you”.

Saya terdiam membaca kalimat itu. Bagi saya, itu bukan sekadar metafora. Itu tanda bahwa Indonesia semakin diperhatikan dunia.

Halaman:

Tags

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB